Wednesday, December 24, 2025

Menemukan Kedamaian di Tengah Arus Perubahan.

Mendekati hari Natal, atmosfer di sekitar kita mulai berubah. Ini adalah penanda alami bahwa sebuah bab sedang tertutup dan lembaran baru siap dibuka. Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, waktu seringkali terasa berlari lebih cepat dari langkah kaki kita.

Namun, mari kita sejenak berhenti dan menyadari bahwa setiap orang melihat musim ini dengan kacamata yang berbeda:
  • Bagi rekan-rekan di Accounting dan Finance, akhir tahun mungkin bukan soal liburan, melainkan deretan angka dan malam-malam panjang demi menutup buku dengan sempurna.
  • Bagi tim Marketing, ini adalah "jam penentuan"—sebuah ujian akhir apakah target yang dikejar setahun penuh akan berbuah manis atau menjadi evaluasi pahit.
  • Bagi para Guru, ini adalah momen jeda untuk bernapas dan mengisi kembali energi setelah berbulan-bulan mendedikasikan diri untuk ilmu.
Di sinilah kita perlu memahami sebuah seni hidup yang penting: Netralitas Mental. Kita perlu menyadari bahwa dalam setiap situasi yang dianggap "terang", selalu ada sisi yang "redup". Begitu pula sebaliknya, di balik situasi yang kita anggap sulit, selalu ada peluang atau keberuntungan bagi orang lain. Tidak ada situasi yang absolut. Sukacita dan tantangan hanyalah dua sisi dari koin yang sama.

Melatih Keseimbangan Batin
Mengapa kita harus bersikap netral? Karena dengan tidak melabeli situasi sebagai "buruk" atau "baik" secara berlebihan, kualitas mental kita akan meningkat.
  • Di hari yang terang: Kita bersyukur tanpa menjadi sombong atau terlena. Kita menikmati keberhasilan dengan kesadaran bahwa ini adalah musim yang akan berganti.
  • Di hari yang redup: Kita tidak perlu hancur. Kita belajar untuk menerima, bertahan, dan mengasah keterampilan baru. Ingatlah, pelaut yang tangguh tidak lahir dari laut yang tenang.
Mari kita hadapi akhir tahun ini dengan hati yang lapang. Apapun posisi Anda saat ini—apakah sedang berpesta atau sedang lembur di balik meja—ingatlah bahwa semua ini adalah bagian dari ritme hidup yang mendewasakan.

Kualitas hidup kita tidak ditentukan oleh situasi yang menimpa kita, melainkan oleh bagaimana cara kita meresponsnya. Selamat Natal dan Menyambut Tahun Baru, Sobat! ❤️

Tuesday, December 16, 2025

Buku yang Mengubah Perspektif.

Selama satu dekade terakhir, ada lima buku luar biasa yang telah membentuk pola pikir saya, mengubah cara saya melihat dunia, diri sendiri, dan tujuan hidup saya. Buku-buku ini bukan sekadar bacaan — mereka telah menjadi sahabat perjalanan, guru tanpa pamrih, dan cermin untuk introspeksi yang lebih dalam.

1. Grit — Angela Duckworth
Buku ini membuka mata saya bahwa kegigihan (grit) — lebih dari sekadar bakat atau kecerdasan — adalah elemen kunci dalam meraih prestasi tinggi. Duckworth menunjukkan bahwa hasrat yang dipadu dengan ketekunan jangka panjang lebih menentukan kesuksesan daripada IQ semata. Konsep ini membantu saya melampaui rasa frustrasi ketika menghadapi kegagalan, dan tetap konsisten mengejar impian saya.

2. The Magic of Thinking Big — David J. Schwartz
Schwartz menantang kita untuk berpikir besar, bukan sekadar aman dan biasa-biasa saja. Buku ini menekankan pentingnya keyakinan kuat, tindakan nyata, dan lingkungan yang mendukung untuk membuka peluang yang lebih besar dalam hidup. Mimpi besar menurutnya bukan sekadar khayalan — tetapi strategi hidup yang harus dipupuk setiap hari.

3. Mindset: The New Psychology of Success — Carol S. Dweck
Dweck memperkenalkan konsep yang sangat revolusioner bagi saya: bahwa pola pikir berkembang (growth mindset) memungkinkan kita melihat kegagalan sebagai kesempatan belajar, bukan sebagai batasan. Dengan mindset ini, kemampuan bukanlah sesuatu yang tetap — melainkan sesuatu yang terus tumbuh melalui usaha dan refleksi.

4. The Answer — Allan & Barbara Pease
Buku ini mengajak kita untuk mengambil kendali penuh atas hidup dengan menata ulang pola pikir kita. Allan & Barbara Pease membahas bagaimana cara membuka sistem saraf kita agar fokus pada peluang dan tujuan yang benar-benar kita inginkan, bukan sekadar reaksi terhadap situasi atau ekspektasi orang lain. Esensinya adalah: ketika kita memilih tujuan dengan jelas, otak kita mencari cara untuk mencapainya.

5. Letting Go — David R. Hawkins
Dalam buku ini, Hawkins menjelaskan seni melepaskan — bukan sebagai bentuk menyerah, tetapi sebagai cara untuk mengurangi reaksi emosional yang menghambat pertumbuhan. Teknik “let go” yang dia ajarkan membantu saya memahami bahwa melepaskan kontrol dan emosi negatif justru membuka ruang untuk ketenangan, kreativitas, dan pertumbuhan spiritual.

Setiap buku di atas telah membantu saya melihat tantangan bukan sebagai hambatan, tetapi sebagai bahan bakar untuk berkembang. Mereka mengajarkan saya untuk berpikir besar, bertahan saat sulit, terus belajar, menetapkan tujuan dengan sengaja, dan melepaskan apa yang tidak bisa saya kontrol.

Kalau kamu punya pengalaman serupa, saya ingin tahu: Apa buku yang paling berpengaruh dalam hidupmu, dan kenapa? Bagikan di kolom komentar atau ceritakan kepada temanmu — karena inspirasi terbesar sering lahir dari cerita yang dibagikan. 📚✨

Monday, December 15, 2025

Investasikan Waktumu untuk Membaca.

Akhir pekan lalu, saya merasa sangat excited karena akhirnya menemukan tribe saya: Saya menghadiri dua acara book club! 🥳 Menemukan komunitas yang se-frekuensi dalam hobi membaca bukan hanya menambah wawasan, tapi juga membuka pintu pertemanan dan koneksi baru yang inspiratif.

💡 Titik Balik Awal: Kekuatan Membaca di Masa SMA Kecintaan saya pada buku dimulai dari sebuah insiden sederhana di SMA kelas satu. Saat itu, saya sakit dan harus izin tidak masuk sekolah. Karena bosan, saya iseng mengambil buku teks Biologi dan membacanya.

Esoknya, tanpa pemberitahuan, guru memberikan ulangan mendadak. Dan hasilnya? Saya mendapat nilai gemilang! ✨

Sejak saat itu, saya menyadari: Belajar tidak cukup hanya mendengarkan di kelas. Kunci penguasaan ilmu adalah inisiatif untuk mencari sumber yang lebih dalam dan detail—yang bisa didapatkan dari buku teks atau sumber terpercaya lainnya.

🚀 Alasan Paling Kuat: Mengakselerasi Pembelajaran Diri
Dalam dua tahun terakhir, saya menemukan alasan yang jauh lebih mendalam mengapa kita perlu membaca.

Kita semua setuju: Pengalaman adalah guru terbaik.

Namun, mari jujur: Sumber daya waktu kita terbatas. Berapa banyak kegagalan dan kesuksesan yang bisa kita alami sendiri dalam hidup ini?

Inilah keajaiban membaca! Membaca adalah jalan pintas untuk belajar dari pengalaman orang lain. Kita bisa menyerap kebijaksanaan, insight, dan keterampilan yang dikumpulkan oleh para ahli selama bertahun-tahun, hanya dalam hitungan jam. Kita hanya perlu memilih buku dari penulis yang kompeten di bidang yang ingin kita kuasai.

Membaca adalah investasi paling efisien untuk melipatgandakan pengalaman hidup Anda.

Mari jadikan membaca sebagai kebiasaan harian. Gabungkan insight yang kita dapat dari buku-buku pengembangan diri dengan pengalaman yang kita jalani setiap hari.

Semoga langkah kecil ini terus membawa kita untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. 💪

Saturday, December 13, 2025

Renungan Orang Hidup Tentang Kehidupan.

Ya ini adalah renungan orang hidup tentang kehidupan karena orang mati sudah tidak bisa merenung hahaha.. Baiklah, sebenarnya seperti apakah Hidup itu?

Hidup itu seperti Uap, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap!
Ketika orang memuji MILIKKU, aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja.

Bahwa mobilku adalah titipanNya,
Bahwa rumahku adalah titipanNya,
Bahwa hartaku adalah titipanNya,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipanNya...

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya, MENGAPA DIA menitipkannya kepadaku? UNTUK APA DIA menitipkan semuanya kepadaku.
Dan kalau bukan milikku, apa yang seharusnya aku lakukan untuk milikNya ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipannya itu diminta kembali olehNya?

Malahan ketika diminta kembali,
kusebut itu MUSIBAH,
kusebut itu UJIAN,
kusebut itu PETAKA,
kusebut itu apa saja, untuk melukiskan semua itu adalah DERITA...

ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan kebutuhan Duniawi,
Aku ingin lebih banyak HARTA,
Aku ingin lebih banyak MOBIL,
Aku ingin lebih banyak RUMAH,
Aku ingin lebih banyak POPULARITAS,

Dan kutolak SAKIT, Kutolak KEMISKINAN,
Seolah KEADILAN dan KASIHNYA, harus berjalan seperti penyelesaian matematika dan sesuai dengan kehendakku.

Aku rajin beribadah, maka selayaknya derita itu menjauh dariku, Dan nikmat dunia seharusnya menghampiriku..
Betapa curangnya aku, kuperlakukan Dia seolah bisnis partnerku dan bukan sebagai Kekasih!
Kuminta Dia membalas perlakuan baikku dan menolak keputusanNya yang tidak sesuai dengan keinginanku.

Duh Tuhan..

Padahal setiap hari kuucapkan, Hidup dan matiku, hanya untukMu
Ya Tuhan, Ampuni Aku, Ya Tuhan.

Mulai hari ini, ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan, dan menjadi bijaksana, mau menuruti kehendakMu saja ya Tuhan...

Sebab aku yakin Engkau akan memberi anugerah dalam hidupku,
KehendakMu adalah yang terbaik bagiku...

Ketika aku ingin hidup Kaya, aku lupa, bahwa hidup itu sendiri adalah sebuah kekayaan.
Ketika aku berat untuk Memberi, aku lupa, bahwa Semua yang aku miliki juga adalah PEMBERIAN.
Ketika aku ingin menjadi yang Terkuat, aku lupa, bahwa dalam KELEMAHAN, Tuhan memberikan aku KEKUATAN.
Ketika aku takut rugi, aku lupa, bahwa hidupku adalah sebuah KEBERUNTUNGAN, karena AnugerahNya

Ternyata hidup ini sangat indah, Ketika aku selalu BERSYUKUR kepadaNya.

Bukan karena hari ini indah, aku Bahagia - Tetapi karena aku BAHAGIA, maka hari ini menjadi Indah.
Bukan tak ada RINTANGAN maka aku menjadi OPTIMIS - Tetapi karena aku optimis, maka RINTANGAN akan menjadi tak terasa.
Bukan karena MUDAH aku YAKIN BISA - Tetapi karena aku YAKIN BISA, maka semuanya menjadi MUDAH.
Bukan karena semua Baik lalu aku tersenyum - Tetapi karena aku tersenyum, maka semua menjadi BAIK.

Tak ada hari yang MENYULITKAN aku, kecuali aku SENDIRI yang membuat SULIT.
Bila aku tidak dapat menjadi jalan besar, cukuplah menjadi JALAN SETAPAK yang dilalui orang.

--- Dikutip dari Buku Meditasi Toilet, Ariesandi, S., Cht

Wednesday, December 03, 2025

Body, Soul and Mind.

Dalam satu tahun terakhir, saya menangani klaim sakit kritis dari klien saya — satu di antaranya divonis kanker lambung, yang lain harus menjalani operasi bypass jantung. Tulisan ini bukan tentang perlindungan asuransi atau proses klaim — dua hal yang sejauh ini, selalu beres selama prosedur sesuai ketentuan perusahaan.

Yang ingin saya SOROT adalah: ketika mereka mendengar diagnosa itu, reaksi mereka sama persis — “Ya ampun, kok bisa? Saya sudah 55 tahun, gak pernah rawat inap kecuali waktu melahirkan …” atau “Saya makan sehat, rutin olahraga, hidup bersih — masa bisa kena sakit jantung?”

Saya bukan dokter — saya hanyalah orang layanan, bukan ahli medis. Tapi pertanyaan mereka terus menghantui saya. Kenapa orang sehat, yang menjalani hidup bersih, bisa tiba-tiba mendapat pukulan penyakit berat?

Jawabannya (setidaknya menurut saya) saya temukan dalam buku Healing and Recovery karya David R. Hawkins. Dalam buku ini dikemukakan ide radikal: tubuh fisik bisa menjadi cerminan dari kondisi mental dan spiritual kita. Emosi negatif yang “tertahan” — misalnya rasa bersalah, ketakutan, amarah, stres — bisa bertransformasi menjadi penyakit di level fisik.

Hawkins memberi gambaran bahwa manusia bukan hanya sekedar “tubuh”. Kita adalah gabungan dari Body, Soul and Mind — dan ketiganya berinteraksi. Jika salah satunya terguncang: mental, emosi, atau spirit — dampaknya bisa muncul bertahun-tahun kemudian, dalam bentuk penyakit serius.

Jadi, di luar disiplin medis dan gaya hidup sehat: kita harus menyadari bahwa kesehatan sejati butuh keseimbangan dan pembersihan di level batin dan pikiran. Stress, trauma, beban emosional yang tidak terselesaikan — jangan dianggap remeh. Lukanya mungkin tak kelihatan sekarang, tapi bisa menanti kesempatan untuk “meledak” di tubuh.

Kalau kita terus mengabaikan hal ini — ya, kita seperti berjalan di atas gunung berapi: hari ini tampak normal, tapi bisa saja meledak kapan saja.

Kalau kamu membaca ini dan merasa “ya, mungkin ada hal yang belum aku selesaikan dalam batin/pikiran/spirit” — pertimbangkan untuk berhenti dulu sejenak. Ambil waktu bersih-bersih emosi, refleksi, dan jaga keseimbangan inner world — sebelum sempat menghantam tubuh kita.

Salam menjaga keseimbangan — Tubuh, Jiwa dan Pikiran.

Kenyataan di Balik Persepsi!

Kemarin di kantor, saya cuma tersenyum ketika seseorang bilang: “Wah, enak ya, badanmu langsing terus.” Mereka lihat bentuk — bukan proses.

Begitu juga dengan pilihan karier: banyak yang bilang, “Asyik ya, kerjanya fleksibel, pendapatannya nggak sedikit.” Tapi saat saya tawarkan jalan itu ke mereka, tiba-tiba ribuan alasan muncul.

Itulah ironi: semua ingin hasil instan, tanpa mau melihat kerja keras di baliknya. Padahal, setiap prestasi besar — pribadi sehat, karier bagus, penghasilan layak — selalu diawali dari keputusan untuk berubah dan bertindak.

Kalau kamu saat ini masih nyaman dengan status quo, ingat: perubahan sejati hanya datang pada mereka yang mau lahirkan usaha nyata — bukan sekadar berharap. Yukk action! 😊😇😉

Monday, November 17, 2025

Kesalahan Bukan Berarti Akhir Dunia!

Untuk kalian para pembelajar dan perfeksionis muda, mari kita hadapi kenyataan ini: satu kesalahan, satu kegagalan, atau bahkan satu 'kebodohan' bukanlah hari kiamat!

Ironisnya, bagi sebagian dari kita, memaafkan diri sendiri atas kekurangan atau blunder justru jauh lebih sulit daripada memaafkan orang lain. Pola pikir yang sering muncul adalah: "Saya lebih kompeten, kenapa saya bisa salah?"

Waspadalah! Pola pikir ini adalah ciri khas dari "Fixed Mindset" yang menghambat pertumbuhan. Pola pikir ini menuntut kesempurnaan dan menjadikan kesalahan sebagai bukti ketidaklayakan.

🗺 Belajarlah dari Google Maps
Bayangkan ini: Ketika Anda sedang berkendara menggunakan Google Maps dan Anda salah belok. Apa yang dilakukan sistem navigasi?

Apakah sistem berteriak, "Dasar bodoh! Kenapa kamu salah belok?" Tentu tidak.

Sistem hanya berkata: "Rerouting..."

Sistem tidak menilai, tidak menghakimi. Ia hanya menyajikan alternatif baru—jalan baru yang mungkin justru lebih baik.

✨ Filosofi Rerouting dalam Hidup
Rerouting dalam hidup bukan berarti kegagalan. Ia mungkin saja menyelamatkan kita dari 'kemacetan' atau 'kecelakaan' di jalur lama.

Rerouting membuka mata kita pada pemandangan, kesempatan, dan pelajaran baru yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Ketahuilah, Sobat: Orang yang paling banyak bertindak adalah orang yang paling mungkin membuat kesalahan. Tetapi, orang itulah juga yang paling banyak belajar, tumbuh, dan menjadi mahir.

Jangan biarkan satu atau dua kesalahan menghentikan perjuangan Anda. Kesalahan adalah bagian alami dari proses menjadi sempurna.

Ingatlah selalu: Practice Makes Perfect. Dan praktik, tidak pernah lepas dari error dan rerouting!

Ayo, reroute pikiranmu hari ini, dan lanjutkan perjalananmu!

Monday, November 10, 2025

Hentikan Drama Korban! Kebahagiaan Sejati Ada di Genggamanmu.

Minggu lalu, sebuah pesan singkat mampir ke kotak masuk saya. Isinya menusuk, "Tri, sebutkan dua momen paling membahagiakan dalam hidupmu saat ini."

Seandainya pertanyaan ini datang tiga tahun lalu, jawaban saya mungkin klise: berhasil promosi jabatan, mendapatkan bonus besar, atau liburan mewah bersama keluarga. Intinya, hal-hal yang 'terjadi' pada saya.

Namun, setelah menyelami ilmu pengetahuan dan refleksi diri, pertanyaan selanjutnya kini jauh lebih menarik: Apa sebenarnya kebahagiaan itu, dan bagaimana kita bisa MENCIPTAKANNYA?

Banyak dari kita masih terjebak dalam pemikiran usang: "Jika saya mendapatkan apa yang saya inginkan, barulah saya bahagia."

Coba jujur, bukankah ini berarti kebahagiaan kita sepenuhnya bergantung pada faktor eksternal? Hal-hal yang berada di luar kendali kita? Itu tandanya kita sedang bermain dalam lotre takdir, dan kita sedang mempertaruhkan kedamaian batin kita pada orang lain, pada perusahaan, atau pada keadaan pasar!

Panggungmu, Kendalimu!
Bayangkan skenario ini: Anda sudah yakin akan dipromosikan, tapi ternyata tidak terjadi. Atau Anda sudah menghitung-hitung bonus tahunan, tapi mendadak tidak cair karena alasan tak terduga.

Di momen kehancuran ekspektasi seperti itu, bisakah kita tetap bahagia?
Jawabannya: YA, BISA!

Jika kebahagiaan Anda masih diikat oleh hasil eksternal (promosi, bonus, pengakuan), Anda sesungguhnya sedang menempatkan diri pada posisi sebagai korban abadi. Anda menyerahkan kekuasaan Anda untuk merasa baik kepada hal-hal yang bisa hilang kapan saja.

Teman, sudah saatnya kita berhenti berpikir bahwa kita hanyalah daun kering yang ditiup angin keadaan!

Kebahagiaan sejati, menurut para ahli, bukanlah tentang apa yang terjadi pada Anda, melainkan respon apa yang Anda berikan terhadap apa yang terjadi. Kebahagiaan adalah tentang perasaan puas dan bermakna yang Anda ciptakan dari dalam, terlepas dari kekacauan di luar.

Mari kita bangun kesadaran diri. Berhenti menyalahkan nasib. Sekarang juga, sadari keberadaanmu dan fokuskan energimu hanya pada satu hal: Mengendalikan apa yang benar-benar bisa kamu kendalikan.
  • Kendali Penuh Atas Pikiranmu: Bagaimana kamu memilih menafsirkan kegagalan.
  • Kendali Penuh Atas Usahamu: Seberapa keras kamu bekerja hari ini.
  • Kendali Penuh Atas Responmu: Bagaimana kamu bereaksi terhadap kabar buruk.
Kebahagiaan bukanlah hasil, tapi keputusan yang kamu ambil setiap hari!

Siap mengambil kembali kendali atas kebahagiaanmu? Tinggalkan peran korban dan mulai hidup sebagai sutradara kehidupanmu sendiri!

Friday, October 31, 2025

Who you become in the process of your Success?

Pelajaran yang saya petik ketika membaca buku Healing & Recovery dari penulis dr. David R Hawkins adalah bahwa kita mempunyai pilihan, dan kita bukanlah korban. Cara untuk keluar dari posisi korban adalah memilih untuk naik dari dasar peta kesadaran (Map of Consciousness) dan menyadari bahwa situasinya bukanlah tanpa harapan. Hanya dengan edukasi, mendengar dan mengetahui tentang masalah itu, kita mulai menyadari bahwa hidup bukanlah tanpa harapan.

Jika kita sekarang melihat Peta kesadaran dari sudut pandang yang sedikit berbeda, orang-orang di level kesadaran yang lebih rendah menghargai hidup dan menilai diri mereka dan orang lain berdasarkan apa yang mereka miliki. Karena selaras dengan upaya bertahan hidup, "Memiliki" menjadi penting.

Naik ke bagian tengah Peta, semakin dekat dengan kebenaran dan keberanian, ada medan energi yang melihat hidup sebagai kesempatan. Ada pusat energi yang kuat di level ini, tempat apa yang kita "lakukan" itulah yang penting. "Melakukan" sangat penting, dan apa yang kita lihat sebagai penyebab. Kita menjadi penting karena apa yang kita lakukan, karena itu ada penekanan besar pada perbuatan.

Sebaliknya kita ingin menilai perbuatan sebagai akibat, bukan penyebab. Apa yang kita perbuat berasal dari apa yang kita Yakini dalam pikiran, atau pola keyakinan; sehingga perbuatan adalah akibat, atau hasil bukan penyebab.

Bukan karena bermain tenis kita bergembira dan sehat; kita bergembira dan sehat sehingga kita mengekspresikan kegembiraan dari gairah hidup kita dengan bermain tenis. Karena itu, pentingnya "melakukan" mulai memudar Ketika level kesadaran kita meningkat.

Ketika kita semakin dekat dengan kesadaran tentang "Siapa sejatinya" kita, maka "Siapa sejatinya" kitalah yang penting. Ketika hidup kita mengalami kemajuan, yang terpenting bagi kita adalah "menjadi seperti apa diri" kita.

"The only thing that is truly significant about today, or any other day, is who you become in the process" - Joshua Metcalf, Page 6, from the book "Chop Wood Carry Water".

Sunday, October 19, 2025

Bukan sekadar Perayaan Dragon Boat?

Kemarin pagi kami — delapan rekan agen asuransi dari beberapa kantor agency — berkumpul bersama untuk merayakan pencapaian MDRT, salah satu dari rekan kami dengan acara out-door dragon boat. Saya sendiri tiba dengan sedikit ekspektasi biasa, namun apa yang saya rasakan justru luar biasa: kebersamaan yang hangat, penuh tawa, dan semangat yang mengalir.

Kadang-kala saya mendapat pertanyaan dari mantan atasan saya di tempat kerja sebelumnya:
“Tri, benar nggak mau kembali kerja kantoran? Mau terus-terusan jadi agen? Kan income-nya nggak stabil?” Saya hanya tersenyum dan menjawab, “Tidak. Ini adalah profesi terakhir saya hingga pensiun.”

Mungkin banyak orang berpikir, kenapa saya memilih begitu? Berikut refleksi saya:

Pertama: Acara kemaren pagi adalah bukti nyata dari satu hal - kami sebagai agen asuransi bukanlah pesaing yang saling menjatuhkan — tetapi malah seprofesi yang mendukung satu sama lain. Dalam lingkungan kami tidak ada politik kantor yang menyita energi, melainkan berbagi tips, memberi semangat, dan saling mengapresiasi keberhasilan rekannya sendiri. Kebersamaan seperti ini memberi rasa punya “keluarga profesional”.

Kedua: Ya, benar — pendapatan sebagai agen asuransi memang tidak selalu bisa dijamin stabil seperti gaji tetap di perusahaan. Tapi bagi saya, “tidak stabil” tidak selalu berarti menurun — justru bisa berarti terus meningkat, mengikuti strategi dan kerja keras kita. Semua profesi pada dasarnya punya tantangan: siapa yang punya ambisi ingin tumbuh, siapa yang puas stagnan. Dalam profesi kami, kesempatan untuk tumbuh jelas ada—asal mau bergerak.

Ketiga (dan yang terpenting): Alasan atau misi yang Anda bawa dalam profesi itu yang membuat Anda bertahan. Tekanan, ketidakpastian, dan tantangan tetap ada — namun ketika misi Anda jelas (misalnya membantu orang melindungi keluarganya, memberi rasa aman, membangun kepercayaan), maka pekerjaan ini bukan hanya soal angka, melainkan soal nilai, soal kontribusi. Dan bagi saya — itu menjadi landasan bahwa profesi ini adalah pilihan yang tepat untuk jangka panjang.

Menjadi agen asuransi bagi saya lebih dari sekadar pekerjaan. Ini adalah cara untuk berbagi, tumbuh, dan memberi arti. Lingkungan yang suportif, peluang pertumbuhan yang nyata, dan misi yang lebih besar — itu yang membuat saya yakin profesi ini adalah tempat saya untuk terus berkembang hingga masa pensiun.

Sunday, October 12, 2025

Konsep Tentang Penuaan.

Konsep Tentang Penuaan - sebenarnya mulai terjadi dari pikiran. Masih ingat saya pernah membagikan satu buku berjudul "Healing and Recovery" oleh DR. David R. Hawkins? Tulisan berikut adalah saduran pemaparan tentang penuaan tersebut. "It's mind blowing" banget buat saya.

Medan energi tubuh sejatinya bersifat netral — tidak positif dan tidak pula negatif. Dalam keadaan ini, pikiran menjadi pengendali utama. Tubuh hanyalah cerminan dari apa yang diyakini pikiran, beroperasi pada medan energi di level tertentu, sekitar 200 (Angka Level Titik yang memisahkan Energi Positif dan Negatif). Karena itu, segala keyakinan, gagasan, pola pikir, dan skrip batin yang tertanam dalam pikiran, perlahan akan diterjemahkan tubuh ke dalam bentuk nyata: dalam cara kita bergerak, berbicara, bahkan dalam kondisi fisik yang kita alami.

Sayangnya, hanya sedikit yang menyadari bahwa berbagai konsep tentang kelemahan usia, penurunan kesehatan, dan keterbatasan fisik sesungguhnya bukan berasal dari tubuh, melainkan dari pikiran yang mempercayainya. Tubuh adalah akibat, bukan penyebab, dan tunduk pada apa yang kita yakini dalam pikiran.

Ada satu contoh sederhana dari dunia klinis yang dapat membantu kita memahami hal ini. Bayangkan seorang pria tua yang tampak lemah memasuki sebuah ruangan. Dengan suara pelan ia berkata, “Apakah saya boleh duduk di sini?” Tubuhnya bergerak perlahan, seolah tenaga telah meninggalkannya. Namun ketika ia dihipnosis dan diberi sugesti bahwa dirinya berusia 35 tahun — lalu dibuat lupa akan sugesti tersebut — sesuatu yang menakjubkan terjadi.

Saat terbangun dan ditawari segelas air, ia menjawab dengan suara mantap, “Ya, saya ingin segelas air.” Ia bangkit, berjalan dengan langkah tegap menuju dispenser, menuangkan air ke gelas, dan kembali duduk dengan tenang. Lelaki tua yang tampak rapuh itu lenyap seketika, tergantikan oleh sosok yang lebih muda dan penuh vitalitas.

Kisah ini menunjukkan bahwa tubuh hanyalah cermin dari keyakinan pikiran. Pikiran yang percaya pada kelemahan akan memunculkan tubuh yang lemah. Pikiran yang dipenuhi ketakutan akan menjelmakan pengalaman yang menakutkan. Lelaki tua dalam kisah tadi memandang tubuhnya sebagai sesuatu yang rapuh, takut jatuh, takut tulangnya patah — dan tubuhnya pun merespons sesuai dengan keyakinan itu.

Begitulah kuatnya hubungan antara pikiran dan tubuh. Saat kita mulai mengubah cara berpikir, menanamkan keyakinan baru yang lebih tinggi, tubuh pun perlahan menyesuaikan diri. Dalam kesadaran itu, kita menemukan kembali bahwa energi sejati manusia bersifat netral dan dapat diarahkan — menuju kelemahan, atau menuju kekuatan. Pilihannya selalu ada di tangan kita.

Bagaimana menurut Anda dengan kutipan bacaan di atas?

PS: Photo bersama sahabat kecil saya, ketika kami masih SD, dan setelah selang 40 tahun kemudian. 😊 😄 😆

Sunday, October 05, 2025

Usia Hanyalah Angka: Warisan Inspiratif.

Foto ini bercerita lebih dari sekadar seorang pria yang berjalan pulang. Ia adalah ayah saya, berusia 82 tahun, baru saja menyelesaikan sesi latihan basket.

Bayangkan itu sejenak: 82 tahun. Bukannya duduk di kursi malas, beliau memegang bola oranye yang telah menjadi saksi bisu semangatnya. Punggung yang tegap, langkah yang mantap—beliau membawa pulang bukan hanya bola, tetapi sebuah pesan kuat untuk kita semua, yang mungkin setengah usianya, dan sedang merasa lelah atau kehilangan motivasi.

Kisah Ayah saya bukan hanya tentang ketahanan fisik. Ini adalah tentang semangat hidup yang menolak untuk menua.

Di usianya yang senja, beliau adalah definisi dari hidup yang aktif dan mandiri. Beliau tidak hanya aktif berolahraga (basket, lho!), tetapi juga:
  • Juru Masak Sejati: Memasak sendiri santapannya, sebuah bukti kemandirian dan perhatian pada kesehatan.
  • Musisi Berjiwa Muda: Bermain musik seperti harmonika dan angklung, menjaga pikiran tetap tajam dan jiwa tetap berirama.
  • Menulis Kaligrafi: Keterampilan yang terus dilakukan dalam kemampuan berbahasa dan sastra Mandarin
Apa pelajaran terbesar yang bisa kita ambil, kita yang usianya mungkin baru seperempat/setengah dari beliau?

Pesan untuk Generasi Muda: Jangan Tunggu Hari Esok! Kepada kalian yang energinya masih melimpah, ingatlah ini: Jangan biarkan usia muda menjadi penghalang untuk memulai kebiasaan baik.

1. Bergerak dan Bertahan (The Power of Persistence)
Melihat Ayah saya memegang bola basket, saya teringat bahwa konsistensi mengalahkan intensitas. Beliau tidak harus menjadi atlet profesional, tetapi beliau memilih untuk tetap bergerak.

Pelajaran: Fisik yang sehat adalah modal utama untuk pikiran yang jernih. Mulailah hari ini, meski hanya 15 menit berjalan kaki atau latihan ringan. Jangan jadikan rutinitas yang monoton sebagai alasan untuk berhenti peduli pada kesehatanmu.

2. Jangan Berhenti Belajar (The Endless Curiosity)
Bermain musik seperti harmonika dan angklung menunjukkan bahwa beliau tidak pernah berhenti belajar dan bereksplorasi. Otaknya terus diasah, koneksi sosialnya terus terjalin.

Pelajaran: Setelah lulus kuliah atau setelah mendapatkan pekerjaan mapan, jangan pernah berpikir 'selesai'. Cari hobi baru, pelajari skill baru. Ini adalah cara terbaik untuk menjaga mentalmu tetap muda dan relevan, jauh melampaui usia kronologismu.

3. Kemandirian dan Kegembiraan (Self-Reliance & Joy)
Memasak, bermain musik, berolahraga—semua dilakukan dengan kemauan dan gairah. Beliau memilih untuk mandiri dan mengisi hidupnya dengan hal-hal yang membahagiakan.

Pelajaran: Jangan serahkan kebahagiaan dan kesehatanmu sepenuhnya pada orang lain. Ambillah kendali atas hidupmu. Temukan hal-hal yang membuatmu bersemangat dan kejarlah itu dengan sepenuh hati, tanpa memandang usia.

Ayah saya adalah sebuah janji. Janji bahwa kita bisa menua tanpa harus menjadi pasif. Janji bahwa waktu luang bukanlah waktu untuk berdiam diri, melainkan panggung baru untuk mengejar gairah.

Jika seorang pria berusia 82 tahun masih bisa berlari dan menembak bola basket, apa yang menghalangimu untuk mengejar mimpimu, hari ini juga?

Semangat beliau adalah legacy yang sesungguhnya. Mari kita jadikan legacy ini sebagai alarm kita: Hidup ini terlalu berharga untuk diisi dengan kemalasan. Mari bergerak!

Saturday, September 27, 2025

Mengejar Worklife Balance

Worklife balance bukan tentang membagi Waktu untuk setiap bagian kehidupan secara sempurna. Seringkali konsep "keseimbangan" itu sendiri menimbulkan rasa bersalah karena mustahil dicapai secara konstan. Sebaliknya hidup adalah perjalanan yang dinamis, sehingga sudah saatnya kita beralih ke tujuan yang lebih realistis dan memberdayakan yaitu Work-life Sustainability.

Sustain-abilitas bukan tentang kesetaraan pembagian waktu, melainkan tentang manajemen energi dan memastikan bahwa tidak ada sisi kehidupan Anda yang terkuras habis secara permanen. Tujuannya adalah menjaga ketahanan mental dan fisik Anda agar Anda dapat berfungsi secara optimal di kedua domain, mencegah burnout total saat beban kerja sedang tinggi.

Untuk mencapai sustain-abilitas ini, Anda harus menetapkan perawatan diri yang tidak dapat dinegosiasikan sebagai sumber energi dasar Anda. Ini mencakup tiga pilar penting yang harus Anda lindungi:
  • Tidur yang Cukup: Fondasi dari semua fungsi kognitif dan emosional.
  • Aktivitas Fisik/Olahraga Teratur: Obat penangkal stres yang alami.
  • Hobi/Gairah Non-Kerja: Kegiatan yang memberi Anda kesenangan murni dan pembaruan mental.
Ini bukanlah kemewahan, melainkan input esensial untuk mencegah sistem Anda down. Jadwalkan hal-hal ini seperti Anda menjadwalkan rapat paling penting.

Pada akhirnya, melepaskan pencarian keseimbangan yang mustahil membebaskan kita. Dengan menerima pasang surut kehidupan dan melindungi kebutuhan inti kita, kita membangun ritme yang tidak hanya memungkinkan kita bekerja dengan baik, tetapi juga hidup dengan baik.

Saturday, September 06, 2025

Kamu Single, Kamu Punya Banyak Waktu?

Pernahkah Anda mendengar kalimat ini: "Kamu single, kamu punya banyak waktu. Jadi, kamu bisa melakukan ini dan itu..."?

Bagi sebagian orang, kalimat itu terasa seperti sindiran halus. Seolah-olah, status "single" secara otomatis berarti Anda memiliki banyak ruang kosong dalam hidup Anda. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu. Saya mengerti perasaan itu, karena saya pun merasakannya. Hidup saya tidak pernah sesantai yang orang lain bayangkan.

Sebagai seorang agen asuransi, saya mengelola karir yang menuntut fleksibilitas dan dedikasi tinggi. Di sisi lain, saya juga memiliki tanggung jawab pribadi yang tak bisa diabaikan—terutama merawat orang tua saya, yang meskipun sehat, tetap membutuhkan perhatian.

Ada satu rutinitas yang selalu menjadi prioritas utama: mengantar papa saya latihan angklung setiap Kamis di gereja. Sering kali, jadwal ini berbenturan dengan janji temu penting bersama calon nasabah. Saat itu terjadi, saya selalu dihadapkan pada pilihan sulit. Apakah saya harus membatalkan janji dengan nasabah yang potensial, atau membiarkan papa saya pergi sendiri dan kehilangan momen berharga ini?

Pilihan yang Mengubah Masa Depan
Di tengah kebimbangan itu, saya selalu mengajukan pertanyaan sederhana pada diri sendiri: "Sepuluh tahun dari sekarang, apakah saya akan menyesal jika tidak melakukan rutinitas ini?"

Jawabannya selalu sama: 100% ya.

Momen-momen bersama papa jauh lebih berharga daripada janji temu yang bisa diatur ulang. Saya belajar untuk menata kembali jadwal saya, meskipun terkadang harus mengecewakan pihak lain. Bukan karena saya tidak serius dengan pekerjaan, tetapi karena saya tahu, prioritas mana yang akan membawa kebahagiaan sejati.

Sering kali, pekerjaan terasa begitu mendesak. Kita merasa harus selalu tersedia, membalas email, dan menjawab telepon setiap saat. Namun, coba renungkan: sepuluh tahun dari sekarang, akankah kita mengingat semua detail pekerjaan itu? Siapa saja yang kita temui, email apa yang kita kirim? Mungkin tidak.

Yang akan selalu kita ingat adalah momen-momen intim bersama orang terkasih. Saya tahu, sepuluh tahun dari sekarang, saya akan selalu mengenang bagaimana saya mengantar papa ke gereja dan melihat senyumnya saat beraktivitas. Momen itu jauh lebih berharga daripada janji temu yang terlewat.

Momen ini membuat saya menyadari satu hal. Saat dihadapkan pada persimpangan antara karir dan keluarga, saya selalu bertanya pada diri sendiri: "Pilihan mana yang bisa membuat saya bahagia di masa depan?"

Pertanyaan ini menjadi kompas hidup saya. Prioritas bukan hanya soal mana yang paling mendesak, tetapi mana yang paling bermakna.

Semoga bagi Anda yang mengalami hal serupa, pertanyaan sederhana ini bisa menjadi pengingat. Hidup bukan hanya tentang mengejar target, tetapi juga tentang menciptakan kenangan yang akan bertahan selamanya.

Thursday, September 04, 2025

Perspektif baru tentang Kesehatan.

Sehat adalah ketika kita kembali memiliki kendali penuh atas kesehatan diri kita, bukan memberikannya pada orang lain atau dunia. Kita berolahraga karena kita menikmati dan menghargai tubuh kita. Kita berenang bukan hanya karena itu sehat, tapi karena kita menyadari bahwa kita menikmati aktivitas tersebut dan merasakan tubuh kita berinteraksi dengan air.

Aktivitas yang dianggap dunia sebagai hal yang menyehatkan sejatinya adalah ekspresi dari semangat hidup. Ada kegembiraan yang dirasakan ketika kita membiarkan tubuh kita bergerak dan beraktivitas. Kondisi tubuh yang sehat adalah hasil dari ekspresi kegembiraan tersebut, bukan penyebabnya.

Jadi olahraga itu adalah akibat dari sebuah kesehatan, karena sehat makanya kita bisa berolah raga - bukan sebaliknya. 😆😊😉

Monday, September 01, 2025

Sehat adalah Keputusan, bukan keadaan.

Dari dulu olahraga bukanlah keahlian saya. Saya tidak pernah jago dalam bidang ini, bahkan sekadar mewakili kelas pun tidak pernah. Namun, kini saya tahu, olahraga bukanlah tentang menjadi atlet, melainkan tentang menjaga diri.

Hidup di kota dengan segala kesibukannya membuat saya sadar bahwa tubuh butuh perhatian ekstra. Tubuh kurus tidak berarti otomatis sehat. Ini tentang bagaimana kita mempersiapkan diri untuk masa depan, agar bisa menikmati hidup dengan nyaman.

Maka dari itu, saya memutuskan untuk mengambil langkah nyata. Saya berkomitmen untuk rutin berolahraga dan mengatur pola makan. Karena saya percaya, kesehatan adalah hadiah yang bisa kita berikan untuk diri kita sendiri.

Saturday, August 30, 2025

Berani Sendiri, Temukan Kesenangan dalam Diri.

Banyak dari kita yang merasa enggan beraktivitas jika tidak ada teman. Pergi ke mal, nonton bioskop, atau bahkan mendaftar tur terasa aneh dan tidak menyenangkan saat dilakukan sendirian. Dulu, saya pun merasakan hal yang sama. Keterbatasan ini membuat banyak rencana tertunda, dan sering kali kesempatan untuk mencoba hal baru terlewat begitu saja.

Namun, cobalah renungkan: Betapa banyak waktu berharga yang terbuang hanya karena kita menunggu orang lain. Padahal, kebahagiaan sejati sering kali datang dari keberanian untuk melangkah, bahkan saat kita harus melangkah sendirian.

Ada perspektif lain yang lebih menarik: Jadikan momen sendirian sebagai kesempatan untuk memulai. Siapa tahu, di tengah perjalanan atau kegiatan yang Anda lakukan, Anda justru akan bertemu dengan orang-orang baru yang memiliki minat yang sama. Bukankah hidup akan terasa lebih seru jika kita berani memulai petualangan sendiri dan menemukan teman-teman baru di sepanjang jalan?

Jangan biarkan rasa takut sendirian menghalangi Anda. Mulailah, nikmati setiap prosesnya, dan temukan kebahagiaan dalam diri Anda sendiri.

Thursday, August 14, 2025

Happiness is not out there, it's in you.

The following excerpt to describe more about the title:

"Do you love me?", Alice asked.
"No, I don't!", replied the white rabbit.
Alice frowned and clasped her hands together like she did everytime she felt hurt.
"See?", replied the white rabbit.
"Now you will start asking yourself what makes you so imperfect and what you did wrong that I can't love you at least a little."
"You know why I can't love you."
"You won't always be loved, Alice, there will be days when other people will be tired and bored with life, will have their heads in the clouds, and will hurt you."

"Because humans are like that, somehow they always end up hurting each other's feeling, whether through carelessness, misunderstanding, or conflict with themselves."

"If you don't love yourself, at least a little, if you don't create an armor of self-love and happiness around your heart, the weak interference caused by other people will be deadly and will destroy you."

"The first time I saw you I made a pact with myself: 'I will avoid loving you until you learn to love yourself'."

Taken From "Alice in Wonderland".

Sunday, August 10, 2025

Sekali ditolak, tidak berarti selamanya.

Dulu, yoga sama sekali bukan olahraga pilihan saya. Bahkan, saya sempat menolaknya mentah-mentah saat pertama kali dikenalkan pada 2014. Pikiran saya saat itu, yoga terlalu lambat dan membosankan, tidak cocok dengan kepribadian saya yang lebih menyukai olahraga dengan gerakan cepat dan kompetitif.

Perubahan Pandangan
Namun, pada 2016, ada satu kondisi yang membuat saya "terpaksa" kembali mencoba yoga. Tujuannya adalah untuk memperbaiki postur tubuh dan melatih kelenturan. Awalnya saya merasa terpaksa, tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai merasakan manfaatnya. Selain postur yang membaik dan tubuh menjadi lebih lentur, yoga juga memberikan efek relaksasi yang luar biasa, membuat tidur saya jauh lebih nyenyak.

Sejak saat itu, saya jadi rutin berlatih yoga hingga sekarang. Meski belum bisa dibilang ahli, saya yakin dengan ketekunan dan latihan yang konsisten, hasilnya pasti akan terus membaik.

Pelajaran dari Yoga
Pengalaman ini mengajarkan saya satu hal penting: sering kali kita terlalu menginginkan hasil instan. Padahal, untuk mencapai sesuatu, kita butuh proses dan konsistensi. Hal ini tak hanya berlaku untuk yoga, tapi juga dalam banyak aspek kehidupan, seperti mengejar karier atau membangun hubungan.

Pertanyaannya, apakah kita bersedia dan setia untuk menjalani proses itu?

Friday, August 01, 2025

Menjelajahi Transformasi Diri dalam Perjalanan Hidup.

Seringkali dikatakan bahwa liku-liku kehidupan mampu mengubah diri seseorang secara mendalam, bahkan sampai memengaruhi penampilan fisik. Tekanan dan beban hidup memang bisa membuat seseorang tampak lebih lelah, sebaliknya kebahagiaan dan keberuntungan sering kali memancarkan aura cerah dan berseri.

Namun, pertanyaan yang mendasar muncul: Apakah kita akan membiarkan nasib ditentukan sepenuhnya oleh faktor eksternal? Atau, haruskah kita mengambil alih kendali diri untuk menaklukkan berbagai tantangan yang disuguhkan kehidupan? Inilah inti dari perjalanan pribadi setiap individu, sebuah eksplorasi tentang bagaimana kita memilih untuk dibentuk oleh pengalaman, atau sebaliknya, membentuk diri kita sendiri.

Sunday, July 27, 2025

Apa yang Membuatmu Bertahan di Profesimu?

Menjadi marketer, khususnya Agen Asuransi, bukanlah impian saya sejak awal. Namun, profesi ini memberikan saya sebuah solusi yang sangat berharga: fleksibilitas waktu kerja yang membantu saya mengatur keseimbangan hidup. Lebih dari itu, ada satu hal yang membuat saya bertahan dan mulai mencintai pekerjaan ini — yaitu nilai kontribusi yang bisa saya berikan kepada orang lain.

Pada tahun ketiga saya berkecimpung sebagai agen asuransi, pandemi mulai melanda dunia. Di masa itu, seorang nasabah sekaligus teman saya mengalami kecelakaan serius. Kepalanya tertimpa tangga hingga menyebabkan muntah-muntah. Ia harus menjalani rawat inap selama satu malam untuk observasi. Syukurlah, kondisinya tidak berbahaya. Saat keluar rumah sakit, tagihan yang harus dibayar mencapai jumlah setara satu bulan gajinya. Namun, berkat asuransi kesehatan yang dimilikinya, biaya tersebut tertanggung. Dengan lega, ia berkata, "Kalau nggak ada asuransi, saya mungkin harus puasa sebulan, Tri."

Di tahun berikutnya, tepatnya pada tahun kedua pandemi, seorang nasabah lain yang juga seorang guru membuka polis asuransi jiwa dalam kondisi sehat. Namun, tiga bulan setelahnya, ia mengabarkan kepada saya bahwa dirinya didiagnosa kanker payudara. Ia menjalani pengobatan dengan fasilitas BPJS, namun Tuhan lebih sayang padanya—ia meninggal dunia di bulan ke-11 sejak polis dibuat. Saya datang menemui suaminya untuk membantu mengurus segala persyaratan klaim, yang akhirnya berhasil dibayarkan.

Saat klaim itu cair, saya merasa sangat bersyukur karena diberikan kesempatan untuk melayani mereka. Dari sisi keuangan, saya memang tidak memberikan secara langsung. Namun, apresiasi dan rasa terima kasih dari para nasabah itu seakan saya menjadi donatur besar buat mereka. Padahal sejatinya, semua keputusan besar itu adalah pilihan mereka sendiri — pilihan untuk melindungi diri dan keluarga mereka. Inilah privilege yang membuat saya bertahan hingga saat ini — bukan hanya soal pekerjaan, tapi soal arti dan nilai yang bisa saya berikan bagi kehidupan orang lain. Bagaimana dengan cerita profesimu?

Tuesday, July 15, 2025

Menemukan Makna di Balik Pilihan.

Seringkali, ketika seseorang ditanya mengapa tidak mengambil pekerjaan tertentu, jawaban yang muncul adalah, "Itu bukan passion saya." Jika passion diartikan sebagai "menyukai pekerjaan tersebut," maka mungkin banyak dari kita akan setuju bahwa lebih dari 80% orang bekerja tidak sepenuhnya sesuai dengan passion mereka. Alasan utamanya seringkali sederhana: ada keluarga yang harus dihidupi, tanggung jawab yang harus dipikul.

Pengalaman ini juga saya alami ketika saya memutuskan untuk terjun ke dunia asuransi. Kala itu, yang saya cari adalah solusi atas permasalahan pribadi: fleksibilitas waktu. Orang tua di rumah membutuhkan perhatian dan perawatan saya. Sesederhana itu. Saya tidak lagi memikirkan kriteria ideal seorang agen asuransi—apakah harus pandai berkomunikasi, memiliki banyak relasi, atau hal lainnya. Saya yakin, dengan tekad yang kuat, bahkan sebagai seorang introvert sekalipun, saya bisa belajar dan membangun kemampuan tersebut dari lingkungan sekitar.

Lalu, jika ditanya kembali apa passion saya sebenarnya, dengan pengertian yang sama yaitu "menyukai pekerjaan"? Jawaban saya adalah mendidik dan mengajar. Oleh karena itu, di tengah pencarian solusi pekerjaan, saya sempat mendalami dunia pendidikan selama hampir setahun sebagai relawan (pro bono). Namun, saya menyadari bahwa saya tidak bisa bertahan lama di sana. Kebutuhan untuk membiayai orang-orang yang bergantung pada saya tetap menjadi prioritas.

Dari situlah saya mulai berpikir, mengapa tidak membalikkan perspektif? Saya bisa berkarier di industri asuransi, dan dari sana, saya bisa mendapatkan segalanya: penghasilan yang cukup untuk biaya hidup keluarga dan fleksibilitas waktu untuk bekerja, mengurus rumah, sekaligus menjalani passion saya. Asuransi bukan hanya tentang pekerjaan, melainkan jembatan yang memungkinkan saya mencapai keseimbangan antara tanggung jawab dan panggilan hati.

What if?

What if everything went wrong, was actually going right.
What if that rejection is redirection.
What if your struggle are shaping you for something bigger.
What if the setback is just part of the set up.
May be life isn't happening to you. It's happening for you.

Think about that. 😉😉😉

Thursday, July 03, 2025

Sebuah Pilihan Tak Terduga: Dari Korporat Menuju Agen Asuransi.

Saya yakin, saat kita masih di bangku sekolah dulu, tak seorang pun dari kita – termasuk saya – yang akan menjawab "Agen Asuransi" ketika ditanya tentang cita-cita setelah dewasa. Oleh karena itu, tak heran jika banyak yang terheran-heran saat saya memutuskan untuk melangkah ke dunia agen asuransi, apalagi setelah 15 tahun berkarier di dunia korporasi.

Berbagai reaksi saya terima, seperti:
  • "Kamu yakin mau meninggalkan karier korporatmu? Kan sudah bagus!" (Mungkin mereka berpikir saya sudah gila).
  • "Gelar S2, pengalaman kerja, dan semua sertifikasimu tidak terpakai dong? Apa tidak sayang?"
  • "Jangan-jangan kamu dipecat ya dari perusahaan? Jadi tidak ada pilihan lain selain jadi agen asuransi?"
Kisah lengkapnya pernah saya bagikan dalam postingan sebelumnya. Namun, fast forward ke tahun ini, saya sudah memasuki tahun kedelapan sebagai agen asuransi, dan keyakinan saya tak pernah goyah bahwa ini adalah keputusan yang tepat. Bahkan hingga kini, masih ada saja yang bertanya, "Tidak mau kembali bekerja di korporat lagi?" atau "Berarti semua pengalaman profesional dan pendidikanmu tidak terpakai dong?".

Lebih dari Sekadar Agen Asuransi.
Justru sebaliknya! Sebagai agen asuransi, saya memiliki fleksibilitas waktu. Saya bisa menentukan target sendiri, merencanakan jadwal kerja, dan yang paling penting, bertemu dengan berbagai nasabah dari beragam latar belakang. Perjalanan karier ini bukan HANYA tentang memberikan konsultasi perencanaan keuangan (investasi dan asuransi) semata. Lebih dari itu, saya juga membantu mereka dalam berbagai hal (memberikan NILAI lebih - ProBono), seperti:
  • Menyelesaikan masalah prosedur dengan membuat dan mengajarkan flowchart yang mudah dimengerti, untuk bisnis pribadi nasabah.
  • Membangun program (coding) untuk mempermudah pendataan dan pelaporan.
  • Memberikan konsultasi terkait pembuatan prosedur dan cara memonitornya.
Dan berbagai bantuan lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Pada akhirnya, perjalanan karier adalah keputusan pribadi yang kita genggam. Pertanyaan kuncinya adalah: Apa impianmu? Dan yang terpenting, apakah pekerjaanmu saat ini benar-benar mampu membawamu selangkah lebih dekat untuk mewujudkan impian itu menjadi kenyataan? Oleh karena itu Tentukan pilihan karirmu dengan bijaksana. 😊

Wednesday, June 25, 2025

Menggapai Milestone di Tengah Tantangan.

Tahun ini bukanlah tahun yang mudah bagi dunia bisnis. Berbagai tantangan global, mulai dari perubahan geopolitik hingga tingginya volatilitas pasar saham, telah menjadi ujian bagi banyak pihak. Namun di tengah kondisi yang tidak pasti ini, saya bersyukur dapat mencapai salah satu tonggak penting dalam perjalanan profesional saya.

Di pertengahan tahun ini, Saya sudah memenuhi syarat untuk menjadi Anggota MDRT untuk tahun ke 2 secara berturut-turut; Million Dollar Round Table — sebuah asosiasi global yang beranggotakan para agen asuransi jiwa dan penasihat keuangan terbaik dari berbagai negara dan perusahaan. Menjadi bagian dari komunitas ini adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar untuk terus memberikan layanan terbaik.

Pencapaian ini tentu bukan semata-mata hasil kerja keras pribadi. Saya ingin menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada para nasabah yang telah mempercayakan perlindungan dan perencanaan keuangannya kepada saya, kepada rekan bisnis atas kolaborasi yang luar biasa, serta para mentor yang tak henti memberikan arahan dan inspirasi.

Terima kasih telah menjadi bagian penting dari perjalanan ini. Semoga ke depannya saya bisa terus bertumbuh dan melayani dengan lebih baik lagi.

Monday, June 23, 2025

Belajar Hal Baru: Membuat Sabun dan Melatih Fleksibilitas Diri.

Untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas diri, saya selalu mencoba hal-hal baru di sela-sela kesibukan. Salah satu hal baru yang belum lama ini saya lakukan adalah belajar membuat sabun.

Di tengah tren hidup sehat dan meningkatnya kesadaran akan penggunaan bahan organik, membuat sabun sendiri menjadi salah satu cara untuk lebih bijak dalam mengontrol pemakaian bahan kimia. Tentu saja, semuanya tetap harus dilakukan dengan komposisi yang tepat dan sesuai takaran.

Yang membuat pengalaman ini semakin berkesan adalah karena saya belajar langsung dari Ibu Aninditya, sosok yang sebelumnya juga pernah mengajarkan saya merangkai bunga. Beliau selalu punya cara unik untuk mengaktifkan sisi otak kanan saya, yang selama ini jarang terpakai karena pekerjaan saya cenderung mengandalkan analisis dan logika (otak kiri).

Bagian yang paling menyenangkan dari proses membuat sabun ini adalah saat melihat hasil akhirnya. Dari yang awalnya hanya campuran bahan yang tampak membingungkan, melalui proses pengadukan dan pencetakan, ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang begitu memuaskan. Saya belajar untuk bersabar dan menghargai setiap tahapan yang ada.

Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa dalam hidup, kita sering dihadapkan pada hal-hal yang tampak sulit dan membingungkan. Namun dengan kesabaran, usaha, dan keyakinan terhadap proses - Semuanya akan indah pada waktunya. 😊

Thursday, June 19, 2025

Bukan Generasi Sandwich! Sebuah Kisah Tentang Persiapan di Usia Senja.

Seringkali kita mendengar tentang risiko hidup seperti penyakit atau masalah keuangan. Namun, pernahkah terbayang bahwa usia panjang pun bisa menjadi sebuah risiko tersendiri? Ya, risiko ini bisa berupa kesehatan yang mulai menurun, kondisi finansial yang kurang mapan, atau bahkan hubungan keluarga yang kurang harmonis. Padahal, kebahagiaan di hari tua sangat bergantung pada terpenuhinya ketiga pilar ini secara seimbang.

Ayah saya, di usianya yang ke-82, adalah contoh nyata bagaimana persiapan matang bisa mengubah segalanya. Syukurlah, kesehatan beliau masih prima dan hubungan keluarga kami pun senantiasa harmonis. Di sisi finansial, almarhumah ibu saya adalah pahlawan sejati. Beliau dengan bijak telah mempersiapkan dana hari tua. Setelah ibu berpulang, saya mengemban amanah untuk mengelola dana tersebut. Saya memilih untuk menginvestasikannya pada obligasi, yang secara rutin menghasilkan kupon bulanan. Dana inilah yang kini menjadi penopang biaya hidup ayah. Tak hanya itu, sebagian dari kupon tersebut saya sisihkan untuk membeli asuransi kesehatan bagi beliau.

Namun, tantangan tak pernah benar-benar pergi. Polis asuransi kesehatan ayah ternyata memiliki batas usia manfaat, yaitu hingga usia 80 tahun. Di usia 82 ini, ayah perlu menjalani operasi katarak pertamanya. Tentu saja, asuransi yang lama sudah tidak bisa digunakan. Untungnya, polis yang saya belikan dulu adalah polis unit link. Setelah saya periksa, ada sejumlah dana yang tersimpan di dalamnya – dan jumlahnya cukup untuk menutupi biaya operasi.

Di tengah carut-marutnya kenaikan premi dan perubahan aturan asuransi kesehatan saat ini, saya ingin menegaskan satu hal: terlepas dari profesi saya sebagai agen asuransi atau bukan (karena polis ayah saya dibeli jauh sebelum saya terjun ke industri ini), saya sungguh percaya bahwa setiap produk diciptakan dengan tujuan dan manfaatnya masing-masing. Kuncinya adalah ketelitian dan kecermatan kita dalam memahami serta memilih produk yang paling sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu, tidak akan ada lagi kesalahpahaman atau saling menyalahkan pihak tertentu akibat ketidakmengertian kita sendiri.

All is Well - Plan Well, Live Well. 😊😊😊

Monday, June 16, 2025

Batasan yang Membebaskan: Paradoks Kebebasan Sejati.

Apa yang terlintas di pikiran Anda saat mendengar kata "kebebasan"? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebebasan adalah kemerdekaan; keadaan bebas; kemampuan untuk bertindak atau bergerak tanpa hambatan. Namun, apakah mungkin kita benar-benar bebas jika hidup tanpa aturan atau batasan?

Coba bayangkan sebuah jalan raya tanpa aturan lalu lintas. Awalnya mungkin terdengar menyenangkan—tidak ada lampu merah, batas kecepatan, atau marka jalan. Bebas, bukan? Tapi bayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Kekacauan. Kecelakaan di mana-mana. Alih-alih merasa bebas, orang akan takut untuk keluar rumah. Dalam hal ini, justru aturanlah yang menciptakan kebebasan—bebas untuk berkendara dengan aman dan tertib.

Hal serupa berlaku dalam kehidupan:
  1. Hukum: Melindungi Kebebasan
    Tanpa hukum, tak ada jaminan keamanan. Jika setiap orang bebas melakukan apa pun tanpa konsekuensi, maka yang kuat akan menindas yang lemah. Hukum bukan musuh kebebasan, tapi pelindungnya. Ia menjaga hak setiap orang untuk hidup damai.
  2. Norma Sosial dan Etika: Menjaga Harmoni
    Kebebasan berbicara itu penting. Tapi tanpa batas, bisa berubah jadi fitnah atau ujaran kebencian. Norma dan etika memberi kita pedoman untuk mengekspresikan diri tanpa merugikan orang lain.
  3. Disiplin Diri: Jalan Menuju Kebebasan Sejati
    Ingin bebas secara finansial? Anda perlu mengatur pengeluaran dan menabung. Ingin sehat? Anda harus menahan diri dari gaya hidup tak sehat. Disiplin adalah batasan yang kita pilih sendiri demi meraih kebebasan yang lebih besar di masa depan.
Kesimpulannya: Kebebasan tanpa batas bukanlah kebebasan, melainkan potensi kehancuran. Kebebasan sejati muncul saat ada kerangka aturan yang bijak—yang melindungi, bukan membatasi secara semena-mena. Batasan bukan penghalang, melainkan fondasi agar kebebasan bisa tumbuh dan dinikmati bersama.

Bagaimana menurut Anda — masihkah kita memandang batasan sebagai lawan dari kebebasan?

Monday, June 02, 2025

Iseltwald dan Danau Brienz: Dari Lokasi Drama ke Aset Kapitalisasi.

Bagi penggemar drama Korea "Crash Landing On You" (CLOY), adegan ikonis Kapten Ri Jeong Hyeok bermain piano di tepi danau mungkin masih teringat jelas. Lokasi syuting yang memukau itu adalah Iseltwald, sebuah desa cantik yang dihiasi kejernihan Danau Brienz berwarna turquoise menawan, hasil pantulan langit biru nan cerah.

Dahulu, dermaga tersebut bisa dinikmati secara gratis. Namun, setelah CLOY tayang pada akhir 2019 dan popularitasnya meledak pasca-pandemi COVID-19, Iseltwald dibanjiri wisatawan. Untuk menjaga kelestarian lokasi dan mengurai kemacetan, pemerintah setempat menerapkan sistem reservasi, biaya masuk, dan biaya parkir.

Saat ini, untuk bisa berdiri di dermaga tersebut, Anda perlu membayar 10 CHF (sekitar Rp 200.000). Oleh karena itu, saya memilih untuk berfoto di depannya, tanpa masuk ke dermaga. 😅

Fenomena ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah lokasi wisata, yang tadinya dapat diakses secara bebas, bertransformasi menjadi Aset yang dikapitalisasi. Artinya, potensi ekonominya dioptimalkan melalui pengelolaan yang terstruktur dan berbayar.

Memahami Aset: Mobil Sebagai Contoh
Konsep aset sendiri seringkali disalahpahami. Pernahkah Anda mendengar seseorang ingin menjual "aset"-nya, yaitu mobil? Dalam konteks tertentu, mobil bisa menjadi aset, namun dalam situasi lain, ia justru bisa menjadi beban. Apa bedanya?

Aset Tetap (Mobil Produktif): Jika mobil digunakan sebagai alat transportasi untuk bisnis, seperti taksi online, maka mobil tersebut adalah aset tetap. Ia menghasilkan pendapatan atau nilai ekonomis bagi pemiliknya.

Liabilitas (Mobil Konsumtif): Sebaliknya, jika mobil dibeli semata-mata untuk keperluan pribadi dan tidak menghasilkan pemasukan, maka ia cenderung menjadi liabilitas atau beban. Ia justru mengeluarkan biaya untuk perawatan, bahan bakar, dan depresiasi nilai tanpa menghasilkan keuntungan.

Melihat contoh ini, pertanyaan pentingnya adalah: Apakah Anda sudah mengumpulkan aset masa depan yang benar? Pahami perbedaan antara aset yang benar-benar menghasilkan nilai dan liabilitas yang justru menguras kantong Anda.

PS: Ingin mengoptimalkan Aset Anda? silahkan chat saya untuk konsultasi gratis. 😊

Wednesday, May 28, 2025

Pekerjaan dan Impian: Menjelajah Hallstatt.

Hallstatt, Austria. Sebulan lalu, saya berdiri di sana, di tepi "Danau Cermin" yang begitu tenang dan jernih hingga memantulkan megahnya pegunungan di sekelilingnya. Konon, keindahan Hallstatt inilah yang menginspirasi Kerajaan Arendelle dalam film animasi Frozen. Momen ini bukan tentang tren "kabur dulu" yang belakangan populer, pun bukan perjalanan dinas atau piknik pribadi seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Kali ini, saya ada di sana sebagai penghargaan atas pencapaian target kerja tahun lalu.

Awalnya, gagasan untuk meniti karier sebagai Agen Asuransi terasa asing bagi saya. Saya seorang introvert, tidak punya pengalaman marketing, dan hanya bicara bila perlu. Bertemu orang baru? Itu tantangan besar. Lalu, bagaimana semua ini bisa berubah?

Kekuatan Impian dan Sistem Penggerak Diri
Perubahan ini berawal dari sebuah impian: ingin berada dalam kondisi seperti apa di masa depan, dan apa saja yang ingin saya nikmati. Impian ini mengaktifkan apa yang disebut Retriculation Activation System (RAS - Baca buku "The Answer") dalam pikiran saya. RAS inilah yang kemudian mendorong pikiran untuk terus mencari cara mewujudkan impian tersebut.

Ini bukan jalan instan. Perjalanan ini penuh ketidaknyamanan, tidak mudah, namun justru memberikan energi yang luar biasa untuk terus bergerak maju menuju tujuan. Tujuh tahun berlalu, dan akhirnya saya berhasil. Tak hanya itu, saya mulai menemukan sebuah pola: mengapa seseorang yang berhasil cenderung terus mencapai kesuksesan. Pola inilah yang menjadi jawaban atas pertanyaan besar itu.

Bagaimana menurut teman-teman? Apakah kalian juga pernah merasakan hal yang sama?
Latepost: 02.05.25

Thursday, May 22, 2025

Mengapa Berubah Bukan Lagi Pilihan, Melainkan Keharusan bagi Karier Anda!

Dalam dunia yang serba cepat ini, kata "berubah" seringkali punya konotasi negatif. Di kehidupan personal, tak jarang kita mendengar, "Kok kamu berubah sih? Nggak kayak dulu!" — seolah perubahan itu adalah tanda kemunduran. Padahal, justru sebaliknya.

Perubahan itu sendiri sebetulnya netral; bisa membawa kita ke arah yang lebih baik, atau malah sebaliknya. Tapi satu hal yang pasti: tanpa perubahan, kita akan mandek, stagnan, dan tertinggal. Nah, bicara tentang pengembangan diri, perubahan adalah inisiatif pribadi yang mutlak kita ambil.

Perubahan adalah aspek fundamental dalam hidup, baik di level individu maupun kolektif. Ini adalah pendorong utama bagi pertumbuhan, adaptasi, dan kemajuan. Dengan merangkul perubahan, kita membuka diri untuk belajar hal baru, mengasah keterampilan, dan menaklukkan tantangan. Hasilnya? Kehidupan yang lebih memuaskan dan karier yang terus melesat.

Pada intinya, merangkul perubahan bukan sekadar preferensi pribadi, melainkan sebuah persyaratan mendasar untuk pertumbuhan berkelanjutan, kemajuan karier, dan kelangsungan hidup di dunia yang kompetitif dan dinamis ini.

Sudah siapkah Anda menjadikan perubahan sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi karier Anda?

Monday, May 19, 2025

The Answer - Allan & Barbara Pease.

Terkait dengan tulisan saya yang terakhir, ada yang nanya, Bagaimana cara memulai perjalanan untuk sukses? Oleh karena itu saya ingin merekomendasikan buku "The Answer" - Allan & Barbara Pease.

Dalam buku ini, Allan & Barbara menemukan penelitian mengenai otak yang menunjukkan bagaimana bisa memprogram ulang pola pikir dam melihat peluang, bukan kesulitan. Mereka berbagi pengalaman pribadi dengan jujur dan penuh humor, serta menunjukkan cara menciptakan hidup yang Anda inginkan.

Dari buku ini saya belajar untuk melakukan:
  • Mengajukan pertanyaan yang tepat kepada diri sendiri
  • Mendapatkan kepercayaan diri untuk mengubah pekerjaan, hubungan atau gaya hidup
  • Memutuskan apa yang diinginkan dan menetapkan tujuan hidup yang sesuai.
Mulai dari satu pertanyaan yang tepat akan membawa kita ke level berikutnya. Selamat memulai perjalanan Sukses Anda!

"Successful people ask better questions, and as a result, they get better answers." - Tonny Robbins.

Tuesday, May 13, 2025

Sudahkah menentukan arah hidup?

Saya pernah menulis tentang pentingnya mimpi, tentang semangat untuk meraih apa yang kita inginkan. Namun, di tengah perjalanan, saya juga bertemu dengan banyak teman yang tampak tanpa arah. Ketika ditanya tentang masa depan, jawaban yang sering saya dengar adalah, "Ah, hidup ini mengalir saja, rezeki sudah diatur oleh Tuhan."

Sekilas, jawaban ini terdengar sangat bijak, penuh penyerahan diri pada Sang Pencipta. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal di hati saya. Jika tiba-tiba arus kehidupan membawa mereka ke tempat yang tidak mereka sukai, apakah mereka akan menyalahkan "aliran" itu?

"Hidup mengalir," kata mereka. Saya jadi teringat air. Ya, air memang mengalir, tapi alirannya selalu punya tujuan: dari puncak gunung menuju sungai, dan akhirnya bermuara di lautan luas. Bahkan ketika kita memesan ojek atau taksi online, kita perlu memasukkan tujuan yang jelas, bukan? Tanpa tujuan, perjalanan tidak akan pernah dimulai.

Dulu, saya pun pernah merasa seperti itu. Bingung, tak tahu ingin kuliah apa, bekerja di mana. Beruntung, saya dipertemukan dengan orang-orang hebat: teman yang lebih cerdas, senior yang berpengalaman, dan mentor yang membimbing. Terutama ketika memasuki dunia asuransi, karier saya dimulai dari nol. Selembar kertas putih yang akhirnya bisa menjadi gambar yang indah, semua tergantung pada keputusan saya. Di sanalah saya belajar tentang kekuatan sebuah impian dan bagaimana cara mewujudkannya.

Saya sudah memulai "perjalanan" dengan tujuan yang jelas. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah kita menentukan ke mana "aliran" hidup ini akan kita arahkan? Jangan biarkan hidup hanya menjadi arus tanpa muara. Mari tentukan tujuan, sekecil apapun itu, dan mulailah bergerak. Karena, bukankah lebih indah jika kita "berlayar" dengan peta di tangan, daripada hanya terbawa ombak tanpa tahu ke mana akan berlabuh?

Sunday, May 11, 2025

Suatu Milestone.

Ini bukan pertama kali saya ke Luar negeri dan ke Benua Eropa. Namun, perjalanan kemaren bukan hanya tentang liburan atau healing, Tetapi merupakan suatu Milestone, bahwa saya sudah berhasil melewatinya.

Melewati masa-masa dikatakan orang tidak mungkin, tidak realistis dan tidak masuk logika. Ini adalah tentang keyakinan, perjuangan dan determinasi untuk mencapai masa depan yang lebih baik, dan berkontribusi kepada orang-orang yang disayang dan sekitar.

Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan, Tidak ada pencapaian tanpa usaha. Jadi teruslah bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan mimpimu menjadi kenyataan.

Gusti ora Sare. Tidak ada yang sia-sia, Jika kita melakukannya dengan suatu tujuan mulia.

Monday, April 21, 2025

Power Vs Force.

Power Vs Force adalah buku yang membahas secara terperinci level-level kesadaran manusia dari yang terendah (a.k.a Negatif) hingga yang tertinggi (a.k.a positif).

Melalui penelitian selama 20 tahun, menggunakan kinesiologi dan temuan-temuan terbaru dalam sains, Dr. Hawkins, seorang psikiater dan guru spiritual, menciptakan Peta Kesadaran untuk memahami emosi dan perilaku manusia; Seluruh kesadaran tinggi tercakup dalam medan energi Power, sementara seluruh kesadaran rendah tercakup dalam medan energi Force, dan dua hal itu lah yang menentukan baik-buruknya manusia.

Dalam bukunya ini, Dr Hawkins pun menjelaskan asal-usul penderitaan dan bagaimana mengubah kesadaran rendah menjadi kesadaran tinggi, yang berpuncak pada pencerahan.

Jika Anda sedang mencari solusi untuk hal berikut:
  • Bagaimana caranya untuk mengenali dan menyembuhkan seluruh luka batin
  • Bagaimana membuat keputusan terbaik dan hidup dalam damai
  • Meningkatkan kesadaran emosi sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup
  • Memahami dinamika energi yang mempengaruhi kehidupan
Inilah buku yang tepat untuk Anda baca - saya pribadi setelah membaca buku ini, merasa Takjub dan percaya bahwa manusia diciptakan serupa dan segambar dengan sang pencipta dan diberi banyak kemampuan. Pertanyaannya adalah, apakah kita sebagai individu sudah memiliki kesadaran dan kemampuan untuk mengakses dan mengendalikan kemampuan itu?

Friday, April 04, 2025

Melihat kekurangan atau peluang?

"Latihan membuat sempurna" adalah ungkapan yang sering kita dengar ketika memulai hal baru atau mengasah keterampilan. Wajar jika di awal kita merasa tidak nyaman, karena tubuh manusia secara alami bereaksi terhadap hal-hal yang asing. Keluhan, kekesalan, atau bahkan kemarahan mungkin muncul ketika harapan tidak sesuai kenyataan.

Namun, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, tubuh kita—yang terdiri dari otot dan cairan—merespons terhadap kata-kata dan pikiran kita. Respons negatif akan melemahkan, sementara respons positif akan menguatkan.

Secara naluriah, sistem pertahanan tubuh kita bereaksi negatif terhadap hal-hal yang dianggap berbahaya atau tidak menyenangkan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melatih pikiran agar mampu melihat sisi positif dari setiap pengalaman, terutama yang kurang menyenangkan. Dengan kata lain, kita perlu belajar mencari hikmah dan pelajaran dari setiap tantangan yang kita hadapi.

Dengan melatih pola pikir seperti ini, kita akan semakin terampil melihat peluang di balik setiap masalah. Kemampuan ini bukan hanya membantu kita mengatasi kesulitan, tetapi juga membuka jalan untuk mengembangkan potensi diri lebih jauh.

"Opportunities lie in the place where the complaints are" - Jack Ma.

Thursday, March 27, 2025

Kekuatan Kata-Kata.

Dari tulisan yang lalu, dijabarkan bahwa stimulasi dari substansi yang negatif baik secara fisik maupun secara kata-kata dapat melemahkan otot, sebaliknya substansi yang positif dapat menguatkan otot.

Lebih lanjut, eksperimen yang dilakukan oleh Dr Masaru Emoto, menghasilkan temuan yang mirip bahwa struktur kristal air menjadi asimetris dan tidak beraturan ketika bereaksi pada kata-kata negatif, sebaliknya kata-kata positif menghasilkan struktur yang indah dan simetris.

Hampir seluruh tubuh kita terdiri dari Otot dan cairan, ini menjadi jelas mengapa ketika terpapar oleh informasi yang negatif kita merasa panik dan lemah. Itu juga menjelaskan kenapa berasa bahwa ketika berada di lingkungan Toxic, kita tidak bisa berkinerja secara efektif. Sebaliknya kata-kata menginspirasi dan memotivasi dapat membangun team atau pertemanan yang solid.

Kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa. Mari kita gunakan kekuatan ini untuk menciptakan lingkungan yang positif dan produktif. Ingat, kata-kata yang kita ucapkan dapat memengaruhi tidak hanya diri kita sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar kita.

Monday, March 24, 2025

Jika otot bisa bicara?

Bayangkan, tubuh kita adalah kanvas yang sangat sensitif, merekam setiap sentuhan, rasa, dan emosi yang kita alami. Ilmu kinesiologi membuka tabir rahasia ini, menunjukkan bahwa otot-otot kita, yang sering kita anggap hanya sebagai alat penggerak, ternyata adalah saksi bisu dari setiap stimulus yang kita terima.

Para ahli kinesiologi menemukan sesuatu yang menakjubkan: otot-otot indikator tertentu dalam tubuh kita bereaksi secara dramatis terhadap berbagai stimulus. Bayangkan, suplemen nutrisi yang bermanfaat, seperti sentuhan lembut yang memberi energi, langsung memperkuat otot-otot ini. Namun, sebaliknya, stimulus berbahaya seperti pemanis buatan, seperti bisikan beracun, melemahkan otot-otot kita secara instan.

Lebih dari itu, tubuh kita tidak hanya merespons stimulus fisik. Otot-otot indikator juga sangat peka terhadap dunia emosi dan intelektual kita. Senyuman tulus, seperti sinar matahari yang hangat, memperkuat otot-otot kita ketika diuji. Namun, kata-kata kebencian, seperti badai yang tiba-tiba, melemahkan otot-otot kita dengan cepat.

Fenomena ini diuraikan dengan jelas oleh Dr. John Diamond dalam bukunya, "Your Body Doesn't Lie." Penelitian ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Dr. David Hawkins, yang menemukan fakta yang lebih mencengangkan. Dalam eksperimennya, subjek-uji menunjukkan kelemahan otot ketika terpapar pada amplop biasa yang mengandung pemanis buatan, bahkan tanpa mereka ketahui isinya. Namun, ketika mereka terpapar pada amplop plasebo, otot-otot mereka tetap kuat.

Temuan ini membuka mata kita pada kekuatan tersembunyi dalam tubuh kita, pada koneksi yang tak terpisahkan antara fisik, emosi, dan pikiran. Sekarang, dengan pengetahuan ini, pertanyaan yang tersisa adalah: perubahan apa yang akan Anda lakukan? Bagaimana Anda akan memanfaatkan kesadaran ini untuk menciptakan kehidupan yang lebih sehat, lebih seimbang, dan lebih positif?

Friday, March 21, 2025

Terbang Sendiri, Bukan Berarti Sepi Selamanya.

Mengejar impian besar itu seperti mendaki gunung yang tinggi. Kadang, di puncak sana, kita merasa sendirian. Bukan karena tidak ada yang peduli, tapi karena tidak semua orang bisa melihat pemandangan yang sama dengan kita. Mereka mungkin masih nyaman di kaki gunung, sementara kita sudah jauh melangkah.

Tapi, jangan sedih dulu! Kesendirian ini justru bisa jadi kekuatan kita, lho. Bayangkan saja:
  • Tenang Tanpa Ribut: Menjauh dari keramaian berarti kita terhindar dari drama dan konflik yang bikin pusing. Pikiran jadi lebih jernih, dan energi bisa kita alihkan untuk hal-hal yang lebih penting.
  • Fokus ke Tujuan: Dari ketinggian, kita bisa melihat gambaran yang lebih luas. Kita jadi tahu arah mana yang benar-benar ingin kita tuju, tanpa terganggu oleh hal-hal kecil yang berisik di bawah sana.
  • Bye-bye Stres! Saat sendirian, kita punya waktu untuk menenangkan diri dan merenung. Stres pun menjauh, dan kita bisa menikmati ketenangan yang jarang kita dapatkan di tengah keramaian.
Jadi, jangan takut untuk terbang sendiri. Ingat, elang terbang sendiri, burung pipit terbang berkelompok.

Tuesday, March 18, 2025

Happiness Now.

Berikut adalah rekomendasi buku untuk teman-teman yang tidak punya waktu atau tidak hobby membaca, tetapi ingin mendapatkan manfaat langsung dari aktivitas membaca.

Buku ini berjudul Happiness Now, ditulis oleh Andrew Matthews. Buku ini ditulis dengan Bahasa sederhana, namun sangat praktis dan merubah pandangan dalam melihat suatu hal. Sehingga pembaca mengalami perubahan paradigma yang positif.

Buku ini penuh dengan kata-kata semangat dan dorongan yang membangkitkan gairah anda yang hampir lumpuh. Jika sedang sedih, ini akan menghilangkan kesedihan tersebut. Jika dikhianati, ada kata-kata penulis yang mampu membuat kita reda terhadap pengkhianatan itu. Jika terlalu gembira, bagaimana mengelola kegembiraan tersebut dengan cara benar.

Kalimat-kalimatnya pendek namun bermakna. Mudah ringkas, dan inspiratif. Menampilkan 60 ilustrasi berwarna yang kocak nan menawan, buku ini akan mengharmoniskan hubungan Anda dengan orang lain, meraih karir yang memuaskan, kemakmuran dan ketenangan hati.

Selamat menikmati membaca!

Sunday, March 16, 2025

Mencapai Impian dengan Menyenangkan.

Siapa bilang buat meraih mimpi itu harus penuh pengorbanan dan kerja keras yang bikin hidup sengsara? Emang sih, usaha itu penting, tapi bukan berarti kita gak bisa enjoy prosesnya. Bayangin aja, tujuan besar itu kayak gunung tinggi banget. Kalo langsung didaki, pasti capek dan bikin down.

Nah, biar lebih asyik, kita bisa bagi gunung itu jadi pos-pos kecil, alias milestone. Setiap pos yang berhasil dilewati, rayain! Jangan anggap remeh kemenangan kecil, karena itu yang bikin kita tetap semangat dan percaya diri. Ibarat main game, setiap naik level pasti seneng, kan?

Merayakan kemenangan itu penting banget, lho. Selain bikin kita makin termotivasi, juga melatih kebiasaan positif dan bikin kita lebih bersyukur. Jadi, jangan lupa kasih hadiah buat diri sendiri setiap kali berhasil mencapai milestone. Misalnya, nonton film kesukaan, makan makanan enak, atau sekadar hangout bareng teman.

Ingat, sukses itu bukan cuma soal tujuan akhir, tapi juga perjalanan yang kita lalui. Dengan merayakan setiap langkah kecil, kita bisa bikin perjalanan itu jadi lebih menyenangkan dan bermakna. Jadi, yuk, mulai sekarang rayakan setiap kemenanganmu!