Saturday, May 14, 2022

"You can't always be perfect".

Itu adalah teguran dari seorang counselor kepada saya dalam sebuah konseling.

Sebagai seorang peserta penerima Beasiswa S2 waktu itu, kami diberikan privilege untuk konseling.

Konseling tersebut untuk membantu kami bisa menetap di Sydney dan beradaptasi di perkuliahan dengan baik.

Dua bulan setelah perkuliahan, saya mendapatkan jadwal konseling. Dikarenakan saya merasa kesulitan dengan satu mata kuliah wajib di Faculty Economics & Commerce, yakni Accounting saya langsung curhat.

"What score did you get in the Mid Semester?" - tanya si counselor. "I got 75 for the subject" - jawab saya.

Ibu counselor hanya tersenyum dan berkata, "That's a very good score, what did you expect?".

Sebagai seorang perfeksionis saya punya standar atas nilai yang harus saya capai.

Namun saya lupa, dengan background pendidikan S1 - Sistem Informasi, tentu saja Accounting adalah hal baru buat saya.

Jawaban selanjutnya dari Ibu Counselor, "Definitely you don't have any problems with your academic. You can't always be perfect, you just need to make progress".

Bertarget untuk mencapai suatu kesempurnaan itu baik, tetapi jangan sampai itu membuat kita tidak bisa menerima kesalahan ataupun menghindari pembelajaran.

Hal tersebut juga kadang bisa mendatangkan stress, karena tidak bisa menerima kelemahan diri kita sendiri.

Memang tidak mudah bagi saya untuk merubah mindset, belajar untuk menerima ketidaksempurnaan, menerima bahwa tidak ada kata gagal, yang ada hanyalah pembelajaran - artinya saya harus coba sekali lagi.

You try, you fail.
You try, you fail.
The real failure is when you stop trying!

PS: In the light of May - Mental Awareness Month.

No comments: