Monday, November 10, 2025

Hentikan Drama Korban! Kebahagiaan Sejati Ada di Genggamanmu.

Minggu lalu, sebuah pesan singkat mampir ke kotak masuk saya. Isinya menusuk, "Tri, sebutkan dua momen paling membahagiakan dalam hidupmu saat ini."

Seandainya pertanyaan ini datang tiga tahun lalu, jawaban saya mungkin klise: berhasil promosi jabatan, mendapatkan bonus besar, atau liburan mewah bersama keluarga. Intinya, hal-hal yang 'terjadi' pada saya.

Namun, setelah menyelami ilmu pengetahuan dan refleksi diri, pertanyaan selanjutnya kini jauh lebih menarik: Apa sebenarnya kebahagiaan itu, dan bagaimana kita bisa MENCIPTAKANNYA?

Banyak dari kita masih terjebak dalam pemikiran usang: "Jika saya mendapatkan apa yang saya inginkan, barulah saya bahagia."

Coba jujur, bukankah ini berarti kebahagiaan kita sepenuhnya bergantung pada faktor eksternal? Hal-hal yang berada di luar kendali kita? Itu tandanya kita sedang bermain dalam lotre takdir, dan kita sedang mempertaruhkan kedamaian batin kita pada orang lain, pada perusahaan, atau pada keadaan pasar!

Panggungmu, Kendalimu!
Bayangkan skenario ini: Anda sudah yakin akan dipromosikan, tapi ternyata tidak terjadi. Atau Anda sudah menghitung-hitung bonus tahunan, tapi mendadak tidak cair karena alasan tak terduga.

Di momen kehancuran ekspektasi seperti itu, bisakah kita tetap bahagia?
Jawabannya: YA, BISA!

Jika kebahagiaan Anda masih diikat oleh hasil eksternal (promosi, bonus, pengakuan), Anda sesungguhnya sedang menempatkan diri pada posisi sebagai korban abadi. Anda menyerahkan kekuasaan Anda untuk merasa baik kepada hal-hal yang bisa hilang kapan saja.

Teman, sudah saatnya kita berhenti berpikir bahwa kita hanyalah daun kering yang ditiup angin keadaan!

Kebahagiaan sejati, menurut para ahli, bukanlah tentang apa yang terjadi pada Anda, melainkan respon apa yang Anda berikan terhadap apa yang terjadi. Kebahagiaan adalah tentang perasaan puas dan bermakna yang Anda ciptakan dari dalam, terlepas dari kekacauan di luar.

Mari kita bangun kesadaran diri. Berhenti menyalahkan nasib. Sekarang juga, sadari keberadaanmu dan fokuskan energimu hanya pada satu hal: Mengendalikan apa yang benar-benar bisa kamu kendalikan.
  • Kendali Penuh Atas Pikiranmu: Bagaimana kamu memilih menafsirkan kegagalan.
  • Kendali Penuh Atas Usahamu: Seberapa keras kamu bekerja hari ini.
  • Kendali Penuh Atas Responmu: Bagaimana kamu bereaksi terhadap kabar buruk.
Kebahagiaan bukanlah hasil, tapi keputusan yang kamu ambil setiap hari!

Siap mengambil kembali kendali atas kebahagiaanmu? Tinggalkan peran korban dan mulai hidup sebagai sutradara kehidupanmu sendiri!

Friday, October 31, 2025

Who you become in the process of your Success?

Pelajaran yang saya petik ketika membaca buku Healing & Recovery dari penulis dr. David R Hawkins adalah bahwa kita mempunyai pilihan, dan kita bukanlah korban. Cara untuk keluar dari posisi korban adalah memilih untuk naik dari dasar peta kesadaran (Map of Consciousness) dan menyadari bahwa situasinya bukanlah tanpa harapan. Hanya dengan edukasi, mendengar dan mengetahui tentang masalah itu, kita mulai menyadari bahwa hidup bukanlah tanpa harapan.

Jika kita sekarang melihat Peta kesadaran dari sudut pandang yang sedikit berbeda, orang-orang di level kesadaran yang lebih rendah menghargai hidup dan menilai diri mereka dan orang lain berdasarkan apa yang mereka miliki. Karena selaras dengan upaya bertahan hidup, "Memiliki" menjadi penting.

Naik ke bagian tengah Peta, semakin dekat dengan kebenaran dan keberanian, ada medan energi yang melihat hidup sebagai kesempatan. Ada pusat energi yang kuat di level ini, tempat apa yang kita "lakukan" itulah yang penting. "Melakukan" sangat penting, dan apa yang kita lihat sebagai penyebab. Kita menjadi penting karena apa yang kita lakukan, karena itu ada penekanan besar pada perbuatan.

Sebaliknya kita ingin menilai perbuatan sebagai akibat, bukan penyebab. Apa yang kita perbuat berasal dari apa yang kita Yakini dalam pikiran, atau pola keyakinan; sehingga perbuatan adalah akibat, atau hasil bukan penyebab.

Bukan karena bermain tenis kita bergembira dan sehat; kita bergembira dan sehat sehingga kita mengekspresikan kegembiraan dari gairah hidup kita dengan bermain tenis. Karena itu, pentingnya "melakukan" mulai memudar Ketika level kesadaran kita meningkat.

Ketika kita semakin dekat dengan kesadaran tentang "Siapa sejatinya" kita, maka "Siapa sejatinya" kitalah yang penting. Ketika hidup kita mengalami kemajuan, yang terpenting bagi kita adalah "menjadi seperti apa diri" kita.

"The only thing that is truly significant about today, or any other day, is who you become in the process" - Joshua Metcalf, Page 6, from the book "Chop Wood Carry Water".

Sunday, October 19, 2025

Bukan sekadar Perayaan Dragon Boat?

Kemarin pagi kami — delapan rekan agen asuransi dari beberapa kantor agency — berkumpul bersama untuk merayakan pencapaian MDRT, salah satu dari rekan kami dengan acara out-door dragon boat. Saya sendiri tiba dengan sedikit ekspektasi biasa, namun apa yang saya rasakan justru luar biasa: kebersamaan yang hangat, penuh tawa, dan semangat yang mengalir.

Kadang-kala saya mendapat pertanyaan dari mantan atasan saya di tempat kerja sebelumnya:
“Tri, benar nggak mau kembali kerja kantoran? Mau terus-terusan jadi agen? Kan income-nya nggak stabil?” Saya hanya tersenyum dan menjawab, “Tidak. Ini adalah profesi terakhir saya hingga pensiun.”

Mungkin banyak orang berpikir, kenapa saya memilih begitu? Berikut refleksi saya:

Pertama: Acara kemaren pagi adalah bukti nyata dari satu hal - kami sebagai agen asuransi bukanlah pesaing yang saling menjatuhkan — tetapi malah seprofesi yang mendukung satu sama lain. Dalam lingkungan kami tidak ada politik kantor yang menyita energi, melainkan berbagi tips, memberi semangat, dan saling mengapresiasi keberhasilan rekannya sendiri. Kebersamaan seperti ini memberi rasa punya “keluarga profesional”.

Kedua: Ya, benar — pendapatan sebagai agen asuransi memang tidak selalu bisa dijamin stabil seperti gaji tetap di perusahaan. Tapi bagi saya, “tidak stabil” tidak selalu berarti menurun — justru bisa berarti terus meningkat, mengikuti strategi dan kerja keras kita. Semua profesi pada dasarnya punya tantangan: siapa yang punya ambisi ingin tumbuh, siapa yang puas stagnan. Dalam profesi kami, kesempatan untuk tumbuh jelas ada—asal mau bergerak.

Ketiga (dan yang terpenting): Alasan atau misi yang Anda bawa dalam profesi itu yang membuat Anda bertahan. Tekanan, ketidakpastian, dan tantangan tetap ada — namun ketika misi Anda jelas (misalnya membantu orang melindungi keluarganya, memberi rasa aman, membangun kepercayaan), maka pekerjaan ini bukan hanya soal angka, melainkan soal nilai, soal kontribusi. Dan bagi saya — itu menjadi landasan bahwa profesi ini adalah pilihan yang tepat untuk jangka panjang.

Menjadi agen asuransi bagi saya lebih dari sekadar pekerjaan. Ini adalah cara untuk berbagi, tumbuh, dan memberi arti. Lingkungan yang suportif, peluang pertumbuhan yang nyata, dan misi yang lebih besar — itu yang membuat saya yakin profesi ini adalah tempat saya untuk terus berkembang hingga masa pensiun.

Sunday, October 12, 2025

Konsep Tentang Penuaan.

Konsep Tentang Penuaan - sebenarnya mulai terjadi dari pikiran. Masih ingat saya pernah membagikan satu buku berjudul "Healing and Recovery" oleh DR. David R. Hawkins? Tulisan berikut adalah saduran pemaparan tentang penuaan tersebut. "It's mind blowing" banget buat saya.

Medan energi tubuh sejatinya bersifat netral — tidak positif dan tidak pula negatif. Dalam keadaan ini, pikiran menjadi pengendali utama. Tubuh hanyalah cerminan dari apa yang diyakini pikiran, beroperasi pada medan energi di level tertentu, sekitar 200 (Angka Level Titik yang memisahkan Energi Positif dan Negatif). Karena itu, segala keyakinan, gagasan, pola pikir, dan skrip batin yang tertanam dalam pikiran, perlahan akan diterjemahkan tubuh ke dalam bentuk nyata: dalam cara kita bergerak, berbicara, bahkan dalam kondisi fisik yang kita alami.

Sayangnya, hanya sedikit yang menyadari bahwa berbagai konsep tentang kelemahan usia, penurunan kesehatan, dan keterbatasan fisik sesungguhnya bukan berasal dari tubuh, melainkan dari pikiran yang mempercayainya. Tubuh adalah akibat, bukan penyebab, dan tunduk pada apa yang kita yakini dalam pikiran.

Ada satu contoh sederhana dari dunia klinis yang dapat membantu kita memahami hal ini. Bayangkan seorang pria tua yang tampak lemah memasuki sebuah ruangan. Dengan suara pelan ia berkata, “Apakah saya boleh duduk di sini?” Tubuhnya bergerak perlahan, seolah tenaga telah meninggalkannya. Namun ketika ia dihipnosis dan diberi sugesti bahwa dirinya berusia 35 tahun — lalu dibuat lupa akan sugesti tersebut — sesuatu yang menakjubkan terjadi.

Saat terbangun dan ditawari segelas air, ia menjawab dengan suara mantap, “Ya, saya ingin segelas air.” Ia bangkit, berjalan dengan langkah tegap menuju dispenser, menuangkan air ke gelas, dan kembali duduk dengan tenang. Lelaki tua yang tampak rapuh itu lenyap seketika, tergantikan oleh sosok yang lebih muda dan penuh vitalitas.

Kisah ini menunjukkan bahwa tubuh hanyalah cermin dari keyakinan pikiran. Pikiran yang percaya pada kelemahan akan memunculkan tubuh yang lemah. Pikiran yang dipenuhi ketakutan akan menjelmakan pengalaman yang menakutkan. Lelaki tua dalam kisah tadi memandang tubuhnya sebagai sesuatu yang rapuh, takut jatuh, takut tulangnya patah — dan tubuhnya pun merespons sesuai dengan keyakinan itu.

Begitulah kuatnya hubungan antara pikiran dan tubuh. Saat kita mulai mengubah cara berpikir, menanamkan keyakinan baru yang lebih tinggi, tubuh pun perlahan menyesuaikan diri. Dalam kesadaran itu, kita menemukan kembali bahwa energi sejati manusia bersifat netral dan dapat diarahkan — menuju kelemahan, atau menuju kekuatan. Pilihannya selalu ada di tangan kita.

Bagaimana menurut Anda dengan kutipan bacaan di atas?

PS: Photo bersama sahabat kecil saya, ketika kami masih SD, dan setelah selang 40 tahun kemudian. 😊 😄 😆

Sunday, October 05, 2025

Usia Hanyalah Angka: Warisan Inspiratif.

Foto ini bercerita lebih dari sekadar seorang pria yang berjalan pulang. Ia adalah ayah saya, berusia 82 tahun, baru saja menyelesaikan sesi latihan basket.

Bayangkan itu sejenak: 82 tahun. Bukannya duduk di kursi malas, beliau memegang bola oranye yang telah menjadi saksi bisu semangatnya. Punggung yang tegap, langkah yang mantap—beliau membawa pulang bukan hanya bola, tetapi sebuah pesan kuat untuk kita semua, yang mungkin setengah usianya, dan sedang merasa lelah atau kehilangan motivasi.

Kisah Ayah saya bukan hanya tentang ketahanan fisik. Ini adalah tentang semangat hidup yang menolak untuk menua.

Di usianya yang senja, beliau adalah definisi dari hidup yang aktif dan mandiri. Beliau tidak hanya aktif berolahraga (basket, lho!), tetapi juga:
  • Juru Masak Sejati: Memasak sendiri santapannya, sebuah bukti kemandirian dan perhatian pada kesehatan.
  • Musisi Berjiwa Muda: Bermain musik seperti harmonika dan angklung, menjaga pikiran tetap tajam dan jiwa tetap berirama.
  • Menulis Kaligrafi: Keterampilan yang terus dilakukan dalam kemampuan berbahasa dan sastra Mandarin
Apa pelajaran terbesar yang bisa kita ambil, kita yang usianya mungkin baru seperempat/setengah dari beliau?

Pesan untuk Generasi Muda: Jangan Tunggu Hari Esok! Kepada kalian yang energinya masih melimpah, ingatlah ini: Jangan biarkan usia muda menjadi penghalang untuk memulai kebiasaan baik.

1. Bergerak dan Bertahan (The Power of Persistence)
Melihat Ayah saya memegang bola basket, saya teringat bahwa konsistensi mengalahkan intensitas. Beliau tidak harus menjadi atlet profesional, tetapi beliau memilih untuk tetap bergerak.

Pelajaran: Fisik yang sehat adalah modal utama untuk pikiran yang jernih. Mulailah hari ini, meski hanya 15 menit berjalan kaki atau latihan ringan. Jangan jadikan rutinitas yang monoton sebagai alasan untuk berhenti peduli pada kesehatanmu.

2. Jangan Berhenti Belajar (The Endless Curiosity)
Bermain musik seperti harmonika dan angklung menunjukkan bahwa beliau tidak pernah berhenti belajar dan bereksplorasi. Otaknya terus diasah, koneksi sosialnya terus terjalin.

Pelajaran: Setelah lulus kuliah atau setelah mendapatkan pekerjaan mapan, jangan pernah berpikir 'selesai'. Cari hobi baru, pelajari skill baru. Ini adalah cara terbaik untuk menjaga mentalmu tetap muda dan relevan, jauh melampaui usia kronologismu.

3. Kemandirian dan Kegembiraan (Self-Reliance & Joy)
Memasak, bermain musik, berolahraga—semua dilakukan dengan kemauan dan gairah. Beliau memilih untuk mandiri dan mengisi hidupnya dengan hal-hal yang membahagiakan.

Pelajaran: Jangan serahkan kebahagiaan dan kesehatanmu sepenuhnya pada orang lain. Ambillah kendali atas hidupmu. Temukan hal-hal yang membuatmu bersemangat dan kejarlah itu dengan sepenuh hati, tanpa memandang usia.

Ayah saya adalah sebuah janji. Janji bahwa kita bisa menua tanpa harus menjadi pasif. Janji bahwa waktu luang bukanlah waktu untuk berdiam diri, melainkan panggung baru untuk mengejar gairah.

Jika seorang pria berusia 82 tahun masih bisa berlari dan menembak bola basket, apa yang menghalangimu untuk mengejar mimpimu, hari ini juga?

Semangat beliau adalah legacy yang sesungguhnya. Mari kita jadikan legacy ini sebagai alarm kita: Hidup ini terlalu berharga untuk diisi dengan kemalasan. Mari bergerak!

Saturday, September 27, 2025

Mengejar Worklife Balance

Worklife balance bukan tentang membagi Waktu untuk setiap bagian kehidupan secara sempurna. Seringkali konsep "keseimbangan" itu sendiri menimbulkan rasa bersalah karena mustahil dicapai secara konstan. Sebaliknya hidup adalah perjalanan yang dinamis, sehingga sudah saatnya kita beralih ke tujuan yang lebih realistis dan memberdayakan yaitu Work-life Sustainability.

Sustain-abilitas bukan tentang kesetaraan pembagian waktu, melainkan tentang manajemen energi dan memastikan bahwa tidak ada sisi kehidupan Anda yang terkuras habis secara permanen. Tujuannya adalah menjaga ketahanan mental dan fisik Anda agar Anda dapat berfungsi secara optimal di kedua domain, mencegah burnout total saat beban kerja sedang tinggi.

Untuk mencapai sustain-abilitas ini, Anda harus menetapkan perawatan diri yang tidak dapat dinegosiasikan sebagai sumber energi dasar Anda. Ini mencakup tiga pilar penting yang harus Anda lindungi:
  • Tidur yang Cukup: Fondasi dari semua fungsi kognitif dan emosional.
  • Aktivitas Fisik/Olahraga Teratur: Obat penangkal stres yang alami.
  • Hobi/Gairah Non-Kerja: Kegiatan yang memberi Anda kesenangan murni dan pembaruan mental.
Ini bukanlah kemewahan, melainkan input esensial untuk mencegah sistem Anda down. Jadwalkan hal-hal ini seperti Anda menjadwalkan rapat paling penting.

Pada akhirnya, melepaskan pencarian keseimbangan yang mustahil membebaskan kita. Dengan menerima pasang surut kehidupan dan melindungi kebutuhan inti kita, kita membangun ritme yang tidak hanya memungkinkan kita bekerja dengan baik, tetapi juga hidup dengan baik.

Saturday, September 06, 2025

Kamu Single, Kamu Punya Banyak Waktu?

Pernahkah Anda mendengar kalimat ini: "Kamu single, kamu punya banyak waktu. Jadi, kamu bisa melakukan ini dan itu..."?

Bagi sebagian orang, kalimat itu terasa seperti sindiran halus. Seolah-olah, status "single" secara otomatis berarti Anda memiliki banyak ruang kosong dalam hidup Anda. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu. Saya mengerti perasaan itu, karena saya pun merasakannya. Hidup saya tidak pernah sesantai yang orang lain bayangkan.

Sebagai seorang agen asuransi, saya mengelola karir yang menuntut fleksibilitas dan dedikasi tinggi. Di sisi lain, saya juga memiliki tanggung jawab pribadi yang tak bisa diabaikan—terutama merawat orang tua saya, yang meskipun sehat, tetap membutuhkan perhatian.

Ada satu rutinitas yang selalu menjadi prioritas utama: mengantar papa saya latihan angklung setiap Kamis di gereja. Sering kali, jadwal ini berbenturan dengan janji temu penting bersama calon nasabah. Saat itu terjadi, saya selalu dihadapkan pada pilihan sulit. Apakah saya harus membatalkan janji dengan nasabah yang potensial, atau membiarkan papa saya pergi sendiri dan kehilangan momen berharga ini?

Pilihan yang Mengubah Masa Depan
Di tengah kebimbangan itu, saya selalu mengajukan pertanyaan sederhana pada diri sendiri: "Sepuluh tahun dari sekarang, apakah saya akan menyesal jika tidak melakukan rutinitas ini?"

Jawabannya selalu sama: 100% ya.

Momen-momen bersama papa jauh lebih berharga daripada janji temu yang bisa diatur ulang. Saya belajar untuk menata kembali jadwal saya, meskipun terkadang harus mengecewakan pihak lain. Bukan karena saya tidak serius dengan pekerjaan, tetapi karena saya tahu, prioritas mana yang akan membawa kebahagiaan sejati.

Sering kali, pekerjaan terasa begitu mendesak. Kita merasa harus selalu tersedia, membalas email, dan menjawab telepon setiap saat. Namun, coba renungkan: sepuluh tahun dari sekarang, akankah kita mengingat semua detail pekerjaan itu? Siapa saja yang kita temui, email apa yang kita kirim? Mungkin tidak.

Yang akan selalu kita ingat adalah momen-momen intim bersama orang terkasih. Saya tahu, sepuluh tahun dari sekarang, saya akan selalu mengenang bagaimana saya mengantar papa ke gereja dan melihat senyumnya saat beraktivitas. Momen itu jauh lebih berharga daripada janji temu yang terlewat.

Momen ini membuat saya menyadari satu hal. Saat dihadapkan pada persimpangan antara karir dan keluarga, saya selalu bertanya pada diri sendiri: "Pilihan mana yang bisa membuat saya bahagia di masa depan?"

Pertanyaan ini menjadi kompas hidup saya. Prioritas bukan hanya soal mana yang paling mendesak, tetapi mana yang paling bermakna.

Semoga bagi Anda yang mengalami hal serupa, pertanyaan sederhana ini bisa menjadi pengingat. Hidup bukan hanya tentang mengejar target, tetapi juga tentang menciptakan kenangan yang akan bertahan selamanya.

Thursday, September 04, 2025

Perspektif baru tentang Kesehatan.

Sehat adalah ketika kita kembali memiliki kendali penuh atas kesehatan diri kita, bukan memberikannya pada orang lain atau dunia. Kita berolahraga karena kita menikmati dan menghargai tubuh kita. Kita berenang bukan hanya karena itu sehat, tapi karena kita menyadari bahwa kita menikmati aktivitas tersebut dan merasakan tubuh kita berinteraksi dengan air.

Aktivitas yang dianggap dunia sebagai hal yang menyehatkan sejatinya adalah ekspresi dari semangat hidup. Ada kegembiraan yang dirasakan ketika kita membiarkan tubuh kita bergerak dan beraktivitas. Kondisi tubuh yang sehat adalah hasil dari ekspresi kegembiraan tersebut, bukan penyebabnya.

Jadi olahraga itu adalah akibat dari sebuah kesehatan, karena sehat makanya kita bisa berolah raga - bukan sebaliknya. 😆😊😉

Monday, September 01, 2025

Sehat adalah Keputusan, bukan keadaan.

Dari dulu olahraga bukanlah keahlian saya. Saya tidak pernah jago dalam bidang ini, bahkan sekadar mewakili kelas pun tidak pernah. Namun, kini saya tahu, olahraga bukanlah tentang menjadi atlet, melainkan tentang menjaga diri.

Hidup di kota dengan segala kesibukannya membuat saya sadar bahwa tubuh butuh perhatian ekstra. Tubuh kurus tidak berarti otomatis sehat. Ini tentang bagaimana kita mempersiapkan diri untuk masa depan, agar bisa menikmati hidup dengan nyaman.

Maka dari itu, saya memutuskan untuk mengambil langkah nyata. Saya berkomitmen untuk rutin berolahraga dan mengatur pola makan. Karena saya percaya, kesehatan adalah hadiah yang bisa kita berikan untuk diri kita sendiri.

Saturday, August 30, 2025

Berani Sendiri, Temukan Kesenangan dalam Diri.

Banyak dari kita yang merasa enggan beraktivitas jika tidak ada teman. Pergi ke mal, nonton bioskop, atau bahkan mendaftar tur terasa aneh dan tidak menyenangkan saat dilakukan sendirian. Dulu, saya pun merasakan hal yang sama. Keterbatasan ini membuat banyak rencana tertunda, dan sering kali kesempatan untuk mencoba hal baru terlewat begitu saja.

Namun, cobalah renungkan: Betapa banyak waktu berharga yang terbuang hanya karena kita menunggu orang lain. Padahal, kebahagiaan sejati sering kali datang dari keberanian untuk melangkah, bahkan saat kita harus melangkah sendirian.

Ada perspektif lain yang lebih menarik: Jadikan momen sendirian sebagai kesempatan untuk memulai. Siapa tahu, di tengah perjalanan atau kegiatan yang Anda lakukan, Anda justru akan bertemu dengan orang-orang baru yang memiliki minat yang sama. Bukankah hidup akan terasa lebih seru jika kita berani memulai petualangan sendiri dan menemukan teman-teman baru di sepanjang jalan?

Jangan biarkan rasa takut sendirian menghalangi Anda. Mulailah, nikmati setiap prosesnya, dan temukan kebahagiaan dalam diri Anda sendiri.

Thursday, August 14, 2025

Happiness is not out there, it's in you.

The following excerpt to describe more about the title:

"Do you love me?", Alice asked.
"No, I don't!", replied the white rabbit.
Alice frowned and clasped her hands together like she did everytime she felt hurt.
"See?", replied the white rabbit.
"Now you will start asking yourself what makes you so imperfect and what you did wrong that I can't love you at least a little."
"You know why I can't love you."
"You won't always be loved, Alice, there will be days when other people will be tired and bored with life, will have their heads in the clouds, and will hurt you."

"Because humans are like that, somehow they always end up hurting each other's feeling, whether through carelessness, misunderstanding, or conflict with themselves."

"If you don't love yourself, at least a little, if you don't create an armor of self-love and happiness around your heart, the weak interference caused by other people will be deadly and will destroy you."

"The first time I saw you I made a pact with myself: 'I will avoid loving you until you learn to love yourself'."

Taken From "Alice in Wonderland".

Sunday, August 10, 2025

Sekali ditolak, tidak berarti selamanya.

Dulu, yoga sama sekali bukan olahraga pilihan saya. Bahkan, saya sempat menolaknya mentah-mentah saat pertama kali dikenalkan pada 2014. Pikiran saya saat itu, yoga terlalu lambat dan membosankan, tidak cocok dengan kepribadian saya yang lebih menyukai olahraga dengan gerakan cepat dan kompetitif.

Perubahan Pandangan
Namun, pada 2016, ada satu kondisi yang membuat saya "terpaksa" kembali mencoba yoga. Tujuannya adalah untuk memperbaiki postur tubuh dan melatih kelenturan. Awalnya saya merasa terpaksa, tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai merasakan manfaatnya. Selain postur yang membaik dan tubuh menjadi lebih lentur, yoga juga memberikan efek relaksasi yang luar biasa, membuat tidur saya jauh lebih nyenyak.

Sejak saat itu, saya jadi rutin berlatih yoga hingga sekarang. Meski belum bisa dibilang ahli, saya yakin dengan ketekunan dan latihan yang konsisten, hasilnya pasti akan terus membaik.

Pelajaran dari Yoga
Pengalaman ini mengajarkan saya satu hal penting: sering kali kita terlalu menginginkan hasil instan. Padahal, untuk mencapai sesuatu, kita butuh proses dan konsistensi. Hal ini tak hanya berlaku untuk yoga, tapi juga dalam banyak aspek kehidupan, seperti mengejar karier atau membangun hubungan.

Pertanyaannya, apakah kita bersedia dan setia untuk menjalani proses itu?

Friday, August 01, 2025

Menjelajahi Transformasi Diri dalam Perjalanan Hidup.

Seringkali dikatakan bahwa liku-liku kehidupan mampu mengubah diri seseorang secara mendalam, bahkan sampai memengaruhi penampilan fisik. Tekanan dan beban hidup memang bisa membuat seseorang tampak lebih lelah, sebaliknya kebahagiaan dan keberuntungan sering kali memancarkan aura cerah dan berseri.

Namun, pertanyaan yang mendasar muncul: Apakah kita akan membiarkan nasib ditentukan sepenuhnya oleh faktor eksternal? Atau, haruskah kita mengambil alih kendali diri untuk menaklukkan berbagai tantangan yang disuguhkan kehidupan? Inilah inti dari perjalanan pribadi setiap individu, sebuah eksplorasi tentang bagaimana kita memilih untuk dibentuk oleh pengalaman, atau sebaliknya, membentuk diri kita sendiri.

Sunday, July 27, 2025

Apa yang Membuatmu Bertahan di Profesimu?

Menjadi marketer, khususnya Agen Asuransi, bukanlah impian saya sejak awal. Namun, profesi ini memberikan saya sebuah solusi yang sangat berharga: fleksibilitas waktu kerja yang membantu saya mengatur keseimbangan hidup. Lebih dari itu, ada satu hal yang membuat saya bertahan dan mulai mencintai pekerjaan ini — yaitu nilai kontribusi yang bisa saya berikan kepada orang lain.

Pada tahun ketiga saya berkecimpung sebagai agen asuransi, pandemi mulai melanda dunia. Di masa itu, seorang nasabah sekaligus teman saya mengalami kecelakaan serius. Kepalanya tertimpa tangga hingga menyebabkan muntah-muntah. Ia harus menjalani rawat inap selama satu malam untuk observasi. Syukurlah, kondisinya tidak berbahaya. Saat keluar rumah sakit, tagihan yang harus dibayar mencapai jumlah setara satu bulan gajinya. Namun, berkat asuransi kesehatan yang dimilikinya, biaya tersebut tertanggung. Dengan lega, ia berkata, "Kalau nggak ada asuransi, saya mungkin harus puasa sebulan, Tri."

Di tahun berikutnya, tepatnya pada tahun kedua pandemi, seorang nasabah lain yang juga seorang guru membuka polis asuransi jiwa dalam kondisi sehat. Namun, tiga bulan setelahnya, ia mengabarkan kepada saya bahwa dirinya didiagnosa kanker payudara. Ia menjalani pengobatan dengan fasilitas BPJS, namun Tuhan lebih sayang padanya—ia meninggal dunia di bulan ke-11 sejak polis dibuat. Saya datang menemui suaminya untuk membantu mengurus segala persyaratan klaim, yang akhirnya berhasil dibayarkan.

Saat klaim itu cair, saya merasa sangat bersyukur karena diberikan kesempatan untuk melayani mereka. Dari sisi keuangan, saya memang tidak memberikan secara langsung. Namun, apresiasi dan rasa terima kasih dari para nasabah itu seakan saya menjadi donatur besar buat mereka. Padahal sejatinya, semua keputusan besar itu adalah pilihan mereka sendiri — pilihan untuk melindungi diri dan keluarga mereka. Inilah privilege yang membuat saya bertahan hingga saat ini — bukan hanya soal pekerjaan, tapi soal arti dan nilai yang bisa saya berikan bagi kehidupan orang lain. Bagaimana dengan cerita profesimu?

Tuesday, July 15, 2025

Menemukan Makna di Balik Pilihan.

Seringkali, ketika seseorang ditanya mengapa tidak mengambil pekerjaan tertentu, jawaban yang muncul adalah, "Itu bukan passion saya." Jika passion diartikan sebagai "menyukai pekerjaan tersebut," maka mungkin banyak dari kita akan setuju bahwa lebih dari 80% orang bekerja tidak sepenuhnya sesuai dengan passion mereka. Alasan utamanya seringkali sederhana: ada keluarga yang harus dihidupi, tanggung jawab yang harus dipikul.

Pengalaman ini juga saya alami ketika saya memutuskan untuk terjun ke dunia asuransi. Kala itu, yang saya cari adalah solusi atas permasalahan pribadi: fleksibilitas waktu. Orang tua di rumah membutuhkan perhatian dan perawatan saya. Sesederhana itu. Saya tidak lagi memikirkan kriteria ideal seorang agen asuransi—apakah harus pandai berkomunikasi, memiliki banyak relasi, atau hal lainnya. Saya yakin, dengan tekad yang kuat, bahkan sebagai seorang introvert sekalipun, saya bisa belajar dan membangun kemampuan tersebut dari lingkungan sekitar.

Lalu, jika ditanya kembali apa passion saya sebenarnya, dengan pengertian yang sama yaitu "menyukai pekerjaan"? Jawaban saya adalah mendidik dan mengajar. Oleh karena itu, di tengah pencarian solusi pekerjaan, saya sempat mendalami dunia pendidikan selama hampir setahun sebagai relawan (pro bono). Namun, saya menyadari bahwa saya tidak bisa bertahan lama di sana. Kebutuhan untuk membiayai orang-orang yang bergantung pada saya tetap menjadi prioritas.

Dari situlah saya mulai berpikir, mengapa tidak membalikkan perspektif? Saya bisa berkarier di industri asuransi, dan dari sana, saya bisa mendapatkan segalanya: penghasilan yang cukup untuk biaya hidup keluarga dan fleksibilitas waktu untuk bekerja, mengurus rumah, sekaligus menjalani passion saya. Asuransi bukan hanya tentang pekerjaan, melainkan jembatan yang memungkinkan saya mencapai keseimbangan antara tanggung jawab dan panggilan hati.

What if?

What if everything went wrong, was actually going right.
What if that rejection is redirection.
What if your struggle are shaping you for something bigger.
What if the setback is just part of the set up.
May be life isn't happening to you. It's happening for you.

Think about that. 😉😉😉

Thursday, July 03, 2025

Sebuah Pilihan Tak Terduga: Dari Korporat Menuju Agen Asuransi.

Saya yakin, saat kita masih di bangku sekolah dulu, tak seorang pun dari kita – termasuk saya – yang akan menjawab "Agen Asuransi" ketika ditanya tentang cita-cita setelah dewasa. Oleh karena itu, tak heran jika banyak yang terheran-heran saat saya memutuskan untuk melangkah ke dunia agen asuransi, apalagi setelah 15 tahun berkarier di dunia korporasi.

Berbagai reaksi saya terima, seperti:
  • "Kamu yakin mau meninggalkan karier korporatmu? Kan sudah bagus!" (Mungkin mereka berpikir saya sudah gila).
  • "Gelar S2, pengalaman kerja, dan semua sertifikasimu tidak terpakai dong? Apa tidak sayang?"
  • "Jangan-jangan kamu dipecat ya dari perusahaan? Jadi tidak ada pilihan lain selain jadi agen asuransi?"
Kisah lengkapnya pernah saya bagikan dalam postingan sebelumnya. Namun, fast forward ke tahun ini, saya sudah memasuki tahun kedelapan sebagai agen asuransi, dan keyakinan saya tak pernah goyah bahwa ini adalah keputusan yang tepat. Bahkan hingga kini, masih ada saja yang bertanya, "Tidak mau kembali bekerja di korporat lagi?" atau "Berarti semua pengalaman profesional dan pendidikanmu tidak terpakai dong?".

Lebih dari Sekadar Agen Asuransi.
Justru sebaliknya! Sebagai agen asuransi, saya memiliki fleksibilitas waktu. Saya bisa menentukan target sendiri, merencanakan jadwal kerja, dan yang paling penting, bertemu dengan berbagai nasabah dari beragam latar belakang. Perjalanan karier ini bukan HANYA tentang memberikan konsultasi perencanaan keuangan (investasi dan asuransi) semata. Lebih dari itu, saya juga membantu mereka dalam berbagai hal (memberikan NILAI lebih - ProBono), seperti:
  • Menyelesaikan masalah prosedur dengan membuat dan mengajarkan flowchart yang mudah dimengerti, untuk bisnis pribadi nasabah.
  • Membangun program (coding) untuk mempermudah pendataan dan pelaporan.
  • Memberikan konsultasi terkait pembuatan prosedur dan cara memonitornya.
Dan berbagai bantuan lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Pada akhirnya, perjalanan karier adalah keputusan pribadi yang kita genggam. Pertanyaan kuncinya adalah: Apa impianmu? Dan yang terpenting, apakah pekerjaanmu saat ini benar-benar mampu membawamu selangkah lebih dekat untuk mewujudkan impian itu menjadi kenyataan? Oleh karena itu Tentukan pilihan karirmu dengan bijaksana. 😊

Wednesday, June 25, 2025

Menggapai Milestone di Tengah Tantangan.

Tahun ini bukanlah tahun yang mudah bagi dunia bisnis. Berbagai tantangan global, mulai dari perubahan geopolitik hingga tingginya volatilitas pasar saham, telah menjadi ujian bagi banyak pihak. Namun di tengah kondisi yang tidak pasti ini, saya bersyukur dapat mencapai salah satu tonggak penting dalam perjalanan profesional saya.

Di pertengahan tahun ini, Saya sudah memenuhi syarat untuk menjadi Anggota MDRT untuk tahun ke 2 secara berturut-turut; Million Dollar Round Table — sebuah asosiasi global yang beranggotakan para agen asuransi jiwa dan penasihat keuangan terbaik dari berbagai negara dan perusahaan. Menjadi bagian dari komunitas ini adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar untuk terus memberikan layanan terbaik.

Pencapaian ini tentu bukan semata-mata hasil kerja keras pribadi. Saya ingin menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada para nasabah yang telah mempercayakan perlindungan dan perencanaan keuangannya kepada saya, kepada rekan bisnis atas kolaborasi yang luar biasa, serta para mentor yang tak henti memberikan arahan dan inspirasi.

Terima kasih telah menjadi bagian penting dari perjalanan ini. Semoga ke depannya saya bisa terus bertumbuh dan melayani dengan lebih baik lagi.

Monday, June 23, 2025

Belajar Hal Baru: Membuat Sabun dan Melatih Fleksibilitas Diri.

Untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas diri, saya selalu mencoba hal-hal baru di sela-sela kesibukan. Salah satu hal baru yang belum lama ini saya lakukan adalah belajar membuat sabun.

Di tengah tren hidup sehat dan meningkatnya kesadaran akan penggunaan bahan organik, membuat sabun sendiri menjadi salah satu cara untuk lebih bijak dalam mengontrol pemakaian bahan kimia. Tentu saja, semuanya tetap harus dilakukan dengan komposisi yang tepat dan sesuai takaran.

Yang membuat pengalaman ini semakin berkesan adalah karena saya belajar langsung dari Ibu Aninditya, sosok yang sebelumnya juga pernah mengajarkan saya merangkai bunga. Beliau selalu punya cara unik untuk mengaktifkan sisi otak kanan saya, yang selama ini jarang terpakai karena pekerjaan saya cenderung mengandalkan analisis dan logika (otak kiri).

Bagian yang paling menyenangkan dari proses membuat sabun ini adalah saat melihat hasil akhirnya. Dari yang awalnya hanya campuran bahan yang tampak membingungkan, melalui proses pengadukan dan pencetakan, ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang begitu memuaskan. Saya belajar untuk bersabar dan menghargai setiap tahapan yang ada.

Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa dalam hidup, kita sering dihadapkan pada hal-hal yang tampak sulit dan membingungkan. Namun dengan kesabaran, usaha, dan keyakinan terhadap proses - Semuanya akan indah pada waktunya. 😊

Thursday, June 19, 2025

Bukan Generasi Sandwich! Sebuah Kisah Tentang Persiapan di Usia Senja.

Seringkali kita mendengar tentang risiko hidup seperti penyakit atau masalah keuangan. Namun, pernahkah terbayang bahwa usia panjang pun bisa menjadi sebuah risiko tersendiri? Ya, risiko ini bisa berupa kesehatan yang mulai menurun, kondisi finansial yang kurang mapan, atau bahkan hubungan keluarga yang kurang harmonis. Padahal, kebahagiaan di hari tua sangat bergantung pada terpenuhinya ketiga pilar ini secara seimbang.

Ayah saya, di usianya yang ke-82, adalah contoh nyata bagaimana persiapan matang bisa mengubah segalanya. Syukurlah, kesehatan beliau masih prima dan hubungan keluarga kami pun senantiasa harmonis. Di sisi finansial, almarhumah ibu saya adalah pahlawan sejati. Beliau dengan bijak telah mempersiapkan dana hari tua. Setelah ibu berpulang, saya mengemban amanah untuk mengelola dana tersebut. Saya memilih untuk menginvestasikannya pada obligasi, yang secara rutin menghasilkan kupon bulanan. Dana inilah yang kini menjadi penopang biaya hidup ayah. Tak hanya itu, sebagian dari kupon tersebut saya sisihkan untuk membeli asuransi kesehatan bagi beliau.

Namun, tantangan tak pernah benar-benar pergi. Polis asuransi kesehatan ayah ternyata memiliki batas usia manfaat, yaitu hingga usia 80 tahun. Di usia 82 ini, ayah perlu menjalani operasi katarak pertamanya. Tentu saja, asuransi yang lama sudah tidak bisa digunakan. Untungnya, polis yang saya belikan dulu adalah polis unit link. Setelah saya periksa, ada sejumlah dana yang tersimpan di dalamnya – dan jumlahnya cukup untuk menutupi biaya operasi.

Di tengah carut-marutnya kenaikan premi dan perubahan aturan asuransi kesehatan saat ini, saya ingin menegaskan satu hal: terlepas dari profesi saya sebagai agen asuransi atau bukan (karena polis ayah saya dibeli jauh sebelum saya terjun ke industri ini), saya sungguh percaya bahwa setiap produk diciptakan dengan tujuan dan manfaatnya masing-masing. Kuncinya adalah ketelitian dan kecermatan kita dalam memahami serta memilih produk yang paling sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu, tidak akan ada lagi kesalahpahaman atau saling menyalahkan pihak tertentu akibat ketidakmengertian kita sendiri.

All is Well - Plan Well, Live Well. 😊😊😊