Wednesday, October 28, 2026

Belajar dari Kematian untuk Mencintai Kehidupan.

Akhir-akhir ini, aku jadi sering merenungkan tentang kematian.

Sepuluh hari yang lalu, seorang temanku bernama Martini berpulang setelah berjuang melawan kanker hanya dalam waktu empat bulan. Usianya baru 51 tahun.

Sebelumnya, aku sempat membaca sebuah surel dari seorang teman, dan aku sangat tersentuh oleh pesan yang ditulisnya di bagian akhir:

“Hidup ini tidak diukur dari seberapa panjang usia kita, melainkan dari bagaimana kita memilih untuk menjalani setiap hari dengan penuh tujuan.”

Sungguh cara pandang yang luar biasa indah terhadap kehidupan. Terkadang, aku sering lupa bahwa hidup kita ini ibarat uap—begitu singkat dan rapuh.

Yang paling memilukan hati dari kepergian Martini adalah beliau meninggalkan seorang putra yang baru berusia 12 tahun, seorang anak yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dan bimbingan seorang ibu. Di tengah perjuangannya melawan sakit, beliau bahkan masih sempat mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku sehari lebih cepat. Ia takut lupa, sebab di hari ulang tahunku yang sebenarnya, ia harus menjalani pemeriksaan PET scan.

Belum lagi, lima bulan yang lalu, papaku juga harus menjalani operasi besar di bagian usus besar (colon), padahal sebelumnya beliau hampir tidak pernah jatuh sakit atau dirawat di rumah sakit.

Rangkaian peristiwa itu membuatku berpikir.

Kematian memang adalah satu-satunya kepastian di dalam hidup. Seperti kutipan terkenal dari Benjamin Franklin: "Di dunia ini tidak ada yang pasti kecuali kematian dan pajak."

Namun, seberapa sering sih kita benar-benar memikirkan tentang kematian kita sendiri?

Kemungkinan besar, sangat jarang.

Rasanya seolah-olah kita telah diprogram untuk menghindari topik tersebut. Kematian terasa kelam, tidak nyaman, dan menjadi sesuatu yang enggan kita bicarakan.

Tetapi, semakin aku merenunginya, semakin aku menyadari satu hal: kematian sebenarnya bisa jadi adalah salah satu guru paling bijak—sekaligus yang paling sering disalahpahami—dalam hidup.

Aku teringat saat membaca buku Tuesdays with Morrie karya Mitch Albom, di mana Morrie berpesan:

“Begitu kamu belajar cara mati, kamu akan belajar cara hidup.”

Dulu, aku tidak sepenuhnya memahami makna kalimat itu saat pertama kali membacanya.

Namun kini, aku mulai mengerti.

Ketika kita menyadari bahwa waktu kita di dunia ini terbatas, sebagian hal yang tadinya kita khawatirkan setengah mati mulai terasa tidak begitu penting lagi. Sebaliknya, hal-hal yang sering kita anggap remeh justru mendadak menjadi sangat berharga.

Kita juga mulai berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih bermakna pada diri sendiri:

Apakah aku menghabiskan waktuku untuk hal yang benar-benar penting?

Apakah aku sudah cukup mencintai orang-orang yang aku sayangi?

Apakah aku sedang menjalani hidup yang benar-benar milikku sendiri?

Dan yang mungkin paling penting...

Jejak apa yang akan aku tinggalkan di dalam hati orang-orang yang pernah aku temui?

Lima belas tahun lalu, aku kehilangan mamaku di Usianya 62 tahun.

Aku ingat saat berada dalam persemayaman dan upacara pemakaman, ada ratusan orang yang datang melayat di rumahku di kampung.

Satu per satu, mereka berbagi cerita tentang bagaimana ia telah menyentuh hidup mereka:

Bagaimana ia selalu memberi semangat.

Bagaimana ia telah banyak membantu mereka.

Bagaimana ia membuat dunia mereka terasa sedikit lebih cerah.

Aku duduk diam di bagian belakang ruangan, mendengarkan semuanya.

Dan aku ingat saat itu membuat sebuah janji pada diri sendiri:

Triana, seperti inilah caramu ingin menjalani hidup.

Bukan berarti harus ada ratusan orang di pemakamanku kelak.

Melainkan menjadi pelita bagi hidup sebanyak mungkin orang, selama aku masih ada di sini.

Momen itu terus melekat di hatiku hingga hari ini.

Dan mungkin itulah sebabnya, meskipun kehilangan orang-orang terdekat membuatku sangat terpukul, aku juga merasa bersyukur atas apa yang terus diajarkan oleh hidup mereka kepadaku.

Sebab dalam beberapa hal, mereka sebenarnya masih ada di sini.

Dalam kebaikan yang pernah mereka tunjukkan.

Dalam keberanian yang mereka teladankan.

Dalam hidup orang-orang yang telah mereka sentuh.

Dan dalam setiap pilihan yang kita ambil hari ini karena mengenang mereka.

Kematian memang bisa mengakhiri sebuah kehidupan. Tapi kematian tidak harus mengakhiri cinta, kebijaksanaan, dan kebaikan yang pernah dibawa oleh seseorang ke dunia ini.

Jadi, di hari yang cerah ini, aku tahu ini bukanlah tulisan motivasi yang biasa kubagikan. Maaf ya.

Namun, aku berharap tulisan ini bisa memberimu sedikit waktu untuk merenung.

Jika orang-orang yang kamu kasihi nantinya mengenang hidupmu, apa hal yang paling kamu harapkan mereka ingat tentang bagaimana caramu membuat mereka merasa dicintai dan dihargai?

Dan mungkin, yang jauh lebih penting...

Apa yang bisa kamu lakukan HARI INI untuk mulai menciptakan lebih banyak kenangan indah tersebut?

Karena kita tidak tahu berapa banyak waktu yang kita miliki.

Tapi yang pasti, kita memiliki hari ini.

Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup alasan untuk hidup dengan sedikit lebih utuh, mencintai dengan sedikit lebih tulus, serta menjadi diri kita sendiri dengan sedikit lebih berani.

Semoga harimu indah.

No comments: