Monday, February 23, 2026

Refleksi: Tidak punya waktu?

Sebutlah namanya Budi adalah seorang pria yang merasa dunianya berputar di atas tumpukan dokumen dan dering notifikasi ponsel. Baginya, "sibuk" adalah tanda kesuksesan. Ia sering melewatkan makan malam bersama keluarga, membatalkan janji olahraga, dan mengabaikan sinyal-sinyal kecil dari tubuhnya—seperti pusing yang terus menerus atau rasa lelah yang tak kunjung hilang.

"Saya tidak punya waktu untuk istirahat, apalagi periksa ke dokter," ucapnya setiap kali sang istri mengingatkan. "Proyek ini tidak bisa menunggu. Meeting ini krusial. Dunia tidak akan berhenti berputar jika saya berhenti sejenak."

Titik Balik di Ruang Putih
Hingga suatu Selasa pagi, di tengah presentasi besar yang ia anggap sebagai "hidup dan mati"-nya, tubuh Budi menyerah. Ia jatuh pingsan.

Ketika ia membuka mata, yang ia lihat bukan lagi layar proyektor, melainkan langit-langit putih rumah sakit. Bau antiseptik menggantikan aroma kopi hitam yang biasa menemaninya. Dokter mendiagnosisnya dengan kelelahan akut dan komplikasi yang mengharuskannya menjalani perawatan intensif selama dua minggu.

Tiba-tiba, keajaiban yang menyedihkan terjadi:
Meeting yang katanya "hidup-mati" itu tetap berjalan tanpa dirinya.
Email yang biasanya dibalas dalam hitungan detik, kini dibiarkan tak terbaca.
Proyek besar itu ternyata tidak hancur meski ia tidak ada di sana.

Sebuah Kesadaran Pahit
Di atas tempat tidur rumah sakit, Budi menyadari sesuatu yang menohok hatinya. Selama bertahun-tahun ia berkata "tidak punya waktu" untuk kesehatan, namun sekarang ia punya 24 jam sehari penuh hanya untuk berbaring dan meminum obat.

Dahulu ia merasa tidak punya waktu 30 menit untuk olahraga, namun kini ia dipaksa punya waktu berhari-hari untuk pemulihan.

Ia melihat jam tangannya yang masih melingkar di pergelangan tangan. Jam itu terus berdetak. Dunia tetap berputar, kantor tetap beroperasi, dan matahari tetap terbit. Satu-satunya hal yang berhenti adalah dirinya.

Pesan Moral:
Waktu sebenarnya tidak pernah kurang. Kita hanya sering salah menempatkan prioritas. Kita selalu punya waktu untuk apa yang kita anggap penting. Jika kita tidak meluangkan waktu untuk menjaga kesehatan, maka suatu saat kita akan dipaksa meluangkan waktu untuk mengobati penyakit.

Jangan menunggu tubuhmu "mogok" hanya untuk membuktikan bahwa kamu manusia, bukan mesin.

No comments: